HALOPOS.ID/JEMBER – Kabupaten Jember mencatatkan kemajuan signifikan dalam upaya pengentasan kemiskinan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Jember berkurang sebanyak 15,99 ribu jiwa pada Maret 2026. Capaian ini menjadi penurunan terbesar dibandingkan 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Penurunan tersebut turut mengubah posisi Jember dalam peta kemiskinan di tingkat provinsi. Setelah bertahun-tahun berada di peringkat kedua berdasarkan jumlah penduduk miskin secara absolut, Jember kini menempati posisi ketiga, di bawah Kabupaten Malang dan Kabupaten Sampang.
Bupati Jember Muhammad Fawait atau Gus Fawait menyambut positif capaian tersebut. Ia menilai penurunan angka kemiskinan menjadi bukti bahwa berbagai upaya pembangunan dan intervensi pemerintah daerah mulai menunjukkan hasil.
“Alhamdulillah, Jember hari ini sudah on the track. Selama bertahun-tahun kemiskinan kita selalu nomor dua secara absolut di Jawa Timur. Dalam sejarahnya, hari ini kita sudah on the track, ada perbaikan. Kita tidak nomor dua lagi, tapi sudah nomor tiga dengan adanya penurunan kemiskinan yang cukup signifikan di Kabupaten Jember,” ujar Gus Fawait, Selasa (20/10/2026).
Angka Kemiskinan Jember Turun ke Level 8 Persen
Data BPS menunjukkan jumlah penduduk miskin di Jember turun dari 216,76 ribu jiwa pada Maret 2025 menjadi 200,77 ribu jiwa pada Maret 2026. Artinya, terdapat pengurangan sebanyak 15,99 ribu penduduk miskin dalam kurun waktu satu tahun.
Dari sisi persentase, tingkat kemiskinan Jember juga mengalami penurunan dari 8,67 persen menjadi 8,00 persen. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam satu dekade terakhir, setelah tingkat kemiskinan Jember sempat mencapai 11,00 persen pada 2017.
Capaian ini bahkan melampaui target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2026 yang menetapkan tingkat kemiskinan sebesar 8,36 persen. Dengan realisasi 8,00 persen, Jember mencatatkan hasil 0,36 poin persentase lebih baik daripada target tersebut.
Tingkat kemiskinan Jember juga berada di bawah rata-rata Jawa Timur yang mencapai 9,06 persen dan angka nasional sebesar 8,07 persen.
Berdasarkan jumlah penduduk miskin secara absolut, Jember kini berada di bawah Kabupaten Malang yang mencatatkan 233,80 ribu jiwa dan Kabupaten Sampang sebanyak 202,59 ribu jiwa.
Meski demikian, pemerintah daerah masih memiliki pekerjaan rumah untuk memastikan penurunan tersebut terus berlanjut, terutama karena jumlah penduduk miskin di Jember masih berada di atas 200 ribu jiwa.
Program Kesehatan, Pendidikan, dan Bantuan Sosial Jadi Intervensi
Gus Fawait menjelaskan, penurunan angka kemiskinan tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, hingga sektor swasta.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi daerah turut didorong peningkatan belanja pemerintah melalui APBD dan APBN, serta perkembangan investasi sepanjang 2025 hingga 2026.
Selain mendorong aktivitas ekonomi, Pemkab Jember menjalankan sejumlah program prioritas untuk memperluas akses pelayanan dasar dan membantu masyarakat berpenghasilan rendah.
Di sektor kesehatan, pemerintah menghadirkan layanan Universal Health Coverage (UHC) untuk mempermudah masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan. Program Homecare juga dikembangkan agar warga yang membutuhkan dapat mengakses layanan kesehatan dengan lebih mudah.
Pemkab Jember turut menyediakan fasilitas Mobil Cinta untuk membantu mengantarkan pasien pulang setelah menjalani perawatan di rumah sakit.
Pada sektor pendidikan, pemerintah daerah mengalokasikan program beasiswa bagi mahasiswa. Program tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat melanjutkan pendidikan tinggi sekaligus mengurangi beban pengeluaran keluarga.
Intervensi ekonomi juga dilakukan melalui pasar murah, program Bunga Desaku yang menyediakan paket sembako, serta penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat.
“Berbagai intervensi pasar murah, program Bunga Desaku yang menyediakan paket sembako, serta penyaluran bantuan pangan terbukti efektif menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan laju inflasi,” imbuhnya.
Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga kemampuan belanja masyarakat, memperluas akses pendidikan dan kesehatan, serta mengurangi beban ekonomi rumah tangga.
Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan Jember Lebih Rendah
Perbaikan kondisi kemiskinan di Jember tidak hanya terlihat dari berkurangnya jumlah penduduk miskin, tetapi juga dari indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan.
Indeks Kedalaman Kemiskinan atau P1 Jember tercatat sebesar 0,71. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata Jawa Timur yang mencapai 1,21 dan angka nasional sebesar 1,27.
Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan atau P2 Jember berada di angka 0,10. Capaian tersebut lebih rendah daripada rata-rata Jawa Timur sebesar 0,24 dan angka nasional sebesar 0,29.
Indeks P1 menggambarkan rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Adapun P2 menunjukkan tingkat ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.
Nilai kedua indeks yang lebih rendah mengindikasikan bahwa kesenjangan pengeluaran penduduk miskin di Jember terhadap garis kemiskinan relatif lebih kecil, begitu pula ketimpangan pengeluaran di antara kelompok masyarakat miskin.
Kondisi ini menjadi salah satu indikator penting bagi pemerintah dalam merancang kebijakan pengentasan kemiskinan yang lebih tepat sasaran.
Penurunan Kemiskinan Jember Tercepat di Kawasan Sekar Kijang
Pada lingkup kawasan Sekar Kijang yang mencakup Jember, Banyuwangi, Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo, Jember mencatatkan penurunan jumlah penduduk miskin terbesar.
Secara keseluruhan, jumlah penduduk miskin di lima daerah tersebut berkurang sekitar 32 ribu jiwa. Jember menyumbang sekitar separuh dari total penurunan tersebut.
Dari sisi persentase, tingkat kemiskinan Jember turun 0,67 poin persentase, dari 8,67 persen menjadi 8,00 persen.
Penurunan tersebut lebih besar dibandingkan Banyuwangi yang mencapai 0,53 poin persentase, Bondowoso 0,36 poin, Situbondo 0,34 poin, dan Lumajang 0,27 poin.
Sebagai perbandingan, tingkat kemiskinan Jawa Timur turun 0,44 poin persentase, dari 9,50 persen menjadi 9,06 persen.
Adapun tingkat kemiskinan Banyuwangi tercatat 5,60 persen, Lumajang 8,33 persen, Situbondo 10,83 persen, dan Bondowoso 11,84 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa Jember mengalami perbaikan yang relatif cepat dibandingkan sejumlah daerah di kawasan timur Jawa Timur. Namun, keberlanjutan program pembangunan dan ketepatan sasaran bantuan tetap diperlukan agar tren positif tersebut dapat dipertahankan.
Gus Fawait Targetkan Kemiskinan Terus Menurun
Meski berhasil menurunkan tingkat kemiskinan hingga 8,00 persen, Gus Fawait menegaskan bahwa capaian tersebut bukanlah akhir dari upaya pembangunan di Kabupaten Jember.
Pemkab Jember menargetkan jumlah penduduk miskin terus berkurang hingga berada di bawah 200 ribu jiwa pada tahun-tahun mendatang.
Target tersebut membutuhkan penguatan program yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, mulai dari perluasan kesempatan kerja, peningkatan aktivitas ekonomi, akses pendidikan dan kesehatan, hingga perlindungan bagi kelompok rentan.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata, terutama oleh masyarakat berpenghasilan rendah yang membutuhkan dukungan untuk meningkatkan taraf hidup.
Gus Fawait menilai penurunan kemiskinan merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, berbagai program pembangunan akan terus diarahkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Dengan berkurangnya 15,99 ribu penduduk miskin dalam setahun dan tingkat kemiskinan yang turun menjadi 8,00 persen, Jember memiliki modal penting untuk melanjutkan agenda pengentasan kemiskinan.
Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi penurunan tersebut sekaligus memastikan masyarakat yang telah keluar dari garis kemiskinan tidak kembali terjebak dalam kondisi ekonomi yang rentan.
Laporan : Bagus
















