Sejarah Tajemtra Jember, Tradisi Gerak Jalan yang Bertahan Sejak 1977

Sejarah Tajemtra Jember, Tradisi Gerak Jalan yang Bertahan Sejak 1977
Sejarah Tajemtra Jember, Tradisi Gerak Jalan yang Bertahan Sejak 1977

HALOPOS.ID/JEMBER – Hampir setengah abad perjalanan Gerak Jalan Tanggul–Jember Tradisional atau TAJEMTRA menjadi bagian dari sejarah masyarakat Kabupaten Jember. Dimulai sejak 1977, tradisi gerak jalan yang menempuh rute Tanggul menuju Jember ini terus bertahan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Selama puluhan tahun, Tajemtra bukan hanya menjadi agenda olahraga tahunan. Perjalanan sekitar 30 kilometer tersebut telah berkembang menjadi salah satu tradisi masyarakat Jember yang memiliki nilai sejarah, kebersamaan, dan budaya yang kuat.

Sejak pertama kali digelar pada 1977, masyarakat dari berbagai latar belakang datang dan berjalan bersama melewati jalur Tanggul–Jember. Waktu terus berubah, peserta berganti, tetapi tradisi tersebut tetap hidup.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jember, Regar Jeane, mengatakan keberlangsungan Tajemtra selama hampir lima dekade menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jember.

“Sejak 1977 sampai hari ini, generasinya berganti tetapi semangat Tajemtra tetap sama. Di sepanjang perjalanan tidak ada sekat. Pelajar, masyarakat umum, komunitas, ASN, pekerja, tua maupun muda berjalan di jalur yang sama dan menuju garis finis yang sama. Inilah salah satu wajah kebersamaan masyarakat Jember,” ujar Regar Jumat (4/9/2026)

Jika dilihat dari sejarahnya, Tajemtra memiliki keunikan karena bukan sekadar tradisi yang dikenang, melainkan tradisi yang terus dilakukan.

Setiap penyelenggaraan menjadi bagian baru dari perjalanan panjang Tajemtra. Masyarakat yang dahulu mengikuti sebagai pelajar, misalnya, kemudian dapat kembali hadir sebagai orang tua dan mendampingi generasi berikutnya.

Karakter tersebut membuat Tajemtra memiliki hubungan yang kuat dengan ingatan kolektif masyarakat Jember.

Lintasan Tanggul–Jember juga menjadi bagian penting dari identitas kegiatan ini. Peserta harus menempuh perjalanan panjang dengan mengandalkan ketahanan fisik, konsistensi dan semangat untuk menyelesaikan perjalanan hingga garis finis.

“Tajemtra mengajarkan kita satu hal sederhana: perjalanan panjang akan terasa lebih ringan ketika ditempuh bersama. Ada yang lelah, ada yang menyemangati. Ada yang tertinggal, ada yang menunggu. Semangat seperti inilah yang harus terus kita jaga dalam membangun Jember,” kata Regar.

Seiring berjalannya waktu, Tajemtra tidak lagi hanya identik dengan olahraga gerak jalan. Kegiatan ini berkembang menjadi pesta rakyat yang melibatkan masyarakat di sepanjang jalur.

Warga turut memberikan dukungan kepada peserta. Di sisi lain, pelaku UMKM mendapatkan ruang untuk beraktivitas, sementara komunitas dan peserta menampilkan berbagai kreativitas melalui kostum, yel-yel dan atraksi.

Kondisi tersebut membuat Tajemtra memiliki karakter tersendiri dibandingkan kegiatan gerak jalan pada umumnya.

Sejarah panjang Tajemtra justru semakin kuat karena tradisi tersebut terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas utamanya sebagai perjalanan bersama dari Tanggul menuju Jember.

Eksistensi Tajemtra kembali terlihat pada pelaksanaan 2026. Sebanyak 25.613 peserta tercatat mengikuti Tajemtra 2026. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dalam catatan pelaksanaan sejak 2015.

Para peserta menempuh lintasan sekitar 29,4 kilometer dari Alun-Alun Tanggul hingga Alun-Alun Jember.

Jumlah peserta yang terus bertambah menunjukkan bahwa sejarah panjang Tajemtra belum membuat tradisi ini kehilangan daya tarik. Sebaliknya, Tajemtra tetap mampu menarik masyarakat dari berbagai kelompok dan usia.

Bagi Pemerintah Kabupaten Jember, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa Tajemtra bukan sekadar peninggalan masa lalu yang hanya layak dikenang. Tajemtra merupakan warisan hidup yang terus berkembang bersama masyarakat.

Pelestarian Tajemtra ke depan tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan penyelenggaraan setiap tahun. Tradisi ini juga diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Jember.

Dampaknya dapat terlihat dari aktivitas ekonomi di sepanjang jalur, keterlibatan UMKM, ruang bagi pelaku ekonomi kreatif serta promosi berbagai potensi daerah.

“Tradisi tidak cukup hanya dipertahankan. Tradisi harus diwariskan kepada generasi berikutnya, dibuat semakin menarik dan memberikan manfaat yang semakin luas. Kita ingin anak-anak muda Jember suatu saat bisa bercerita bahwa mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang Tajemtra,” tutur Regar.

Tajemtra 2026 digelar pada Sabtu, 5 September 2026. Ribuan masyarakat kembali menapaki jalur dari Alun-Alun Tanggul menuju Alun-Alun Jember.

Perjalanan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah Tajemtra bukan hanya tersimpan dalam catatan tahun penyelenggaraan. Sejarahnya hidup melalui setiap langkah masyarakat yang terus mengikuti tradisi tersebut.

Sejak 1977 hingga hari ini, generasi boleh berganti, zaman boleh berubah, dan langkah setiap orang boleh berbeda. Namun, Tajemtra tetap membawa masyarakat Jember menuju satu tujuan yang sama.

Tajemtra bukan sekadar perjalanan 30 kilometer. Ia adalah perjalanan hampir lima dekade kebersamaan masyarakat Jember yang terus berjalan dari generasi ke generasi.

Laporan : Bagus