BEM Nusantara Sumsel Desak Evaluasi Kebijakan Pemerintah, Kartu Merah untuk Prabowo-Gibran

Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Sumatera Selatan menggelar aksi di depan DPRD Sumsel
Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Sumatera Selatan menggelar aksi di depan DPRD Sumsel

HALOPOS.ID|PALEMBANG – Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Sumatera Selatan melayangkan kritik keras terhadap pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Dalam aksi yang digelar di Palembang, Senin (15/6/2026), mahasiswa secara simbolis memberikan kartu merah sebagai bentuk evaluasi terhadap kinerja pemerintah setelah 1 tahun 7 bulan masa kepemimpinan.

Koordinator BEM Nusantara Sumsel, Ilham, mengatakan kartu merah tersebut merupakan representasi kekecewaan mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai belum mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun daerah.

“Kami memberikan kartu merah kepada Presiden dan Wakil Presiden sebagai bentuk evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang kami nilai belum memenuhi harapan masyarakat,” ujar Ilham.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti sejumlah isu strategis, mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), ketersediaan energi, harga kebutuhan pokok, hingga berbagai kebijakan nasional yang dinilai perlu dievaluasi kembali.

Menurut Ilham, kenaikan harga Pertamax menjadi salah satu perhatian utama mahasiswa karena dianggap dilakukan tanpa sosialisasi yang memadai kepada masyarakat. Selain itu, mereka juga menyoroti persoalan distribusi BBM di Sumatera Selatan yang dinilai masih kerap mengalami kendala, terutama untuk jenis solar subsidi.

Mahasiswa menilai kondisi tersebut menjadi ironi mengingat Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah penghasil minyak dan gas terbesar di Indonesia.

Selain isu energi, massa aksi turut menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andre Yunus yang saat ini tengah diproses melalui jalur peradilan militer. Menurut mereka, perlindungan terhadap aktivis serta kebebasan menyampaikan pendapat harus tetap dijamin oleh negara.

Tak hanya itu, mahasiswa juga mendesak pemerintah untuk mengevaluasi sejumlah program dan kebijakan yang menjadi perhatian publik, di antaranya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, stabilitas harga sembako, hingga pembahasan regulasi yang berkaitan dengan TNI dan Polri.

Sebagai bentuk tekanan politik, BEM Nusantara Sumsel memberikan tenggat waktu selama tujuh hari kepada pemerintah pusat untuk merespons berbagai tuntutan yang disampaikan.

Mahasiswa memperingatkan bahwa apabila tidak ada tanggapan yang dianggap memadai dalam kurun waktu tersebut, mereka berencana meningkatkan skala aksi di berbagai daerah.

“Kami memberikan waktu 7×24 jam. Jika tidak ada respons terhadap tuntutan yang kami sampaikan, maka aksi yang lebih besar akan digelar di berbagai wilayah,” tegas Ilham.

Laporan : Adi