ADA orang yang membangun gedung. Ada yang membangun jalan. Muhamad Nasir memilih membangun manusia melalui kata-kata.”
Di sebuah desa kecil bernama Beringin, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, pada 16 Mei 1969, lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak menghabiskan sebagian besar hidupnya di antara buku, ruang kelas, ruang redaksi, dan panggung kebudayaan.
Namanya Muhamad Nasir.
Tak ada yang istimewa dari kehidupan awalnya. Ia bukan lahir dari keluarga pejabat, bukan pula dari lingkungan yang dipenuhi fasilitas pendidikan modern. Ia tumbuh sebagai putra tunggal pasangan almarhum Puadi Zen dan almarhumah Maryam, menjalani masa kecil sebagaimana anak-anak kampung pada umumnya: sederhana, bersahaja, dan akrab dengan nilai-nilai kerja keras.
Namun sejarah sering kali tidak dibentuk oleh kemewahan, melainkan oleh ketekunan.
Sejak kecil, Nasir memiliki ketertarikan yang kuat terhadap dunia bahasa dan bacaan. Ketertarikan itu terus tumbuh ketika ia menempuh pendidikan di SDN 33 Tanjungkarang, SMPN 3 Tanjungkarang, hingga SMAN Wayhalim Tanjungkarang yang diselesaikannya pada tahun 1987.
Perjalanan intelektualnya kemudian berlanjut ke Palembang. Di kota inilah sebagian besar cerita hidupnya ditulis.
Ia memilih kuliah di STKIP PGRI Palembang, yang kini dikenal sebagai Universitas PGRI Palembang. Kampus itu kelak bukan hanya menjadi tempatnya belajar, tetapi juga tempat pengabdiannya selama puluhan tahun.
Banyak orang menganggap pendidikan selesai ketika memperoleh ijazah. Tidak demikian bagi Nasir.
Setelah meraih gelar sarjana pada tahun 1994, ia terus belajar. Tahun 2011 menyelesaikan pendidikan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas PGRI Palembang, lalu melanjutkan studi doktoral pada Program Studi Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2014.
Baginya, pendidikan bukan tujuan akhir. Pendidikan adalah perjalanan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Namun jika kampus membentuk cara berpikirnya, maka dunia jurnalistik membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.
Jauh sebelum media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, Muhamad Nasir sudah akrab dengan aroma tinta koran dan bunyi mesin ketik.
Awal 1990-an menjadi masa penting dalam hidupnya. Saat masih mahasiswa, ia mulai mengirimkan tulisan ke berbagai media. Tulisan-tulisan itu tidak selalu dimuat. Banyak yang kembali tanpa kabar. Tetapi penolakan tidak pernah membuatnya berhenti.
Sebaliknya, penolakan justru menjadi guru yang paling setia.
Nama Muhamad Nasir perlahan mulai dikenal melalui tulisan-tulisannya yang terbit di Sriwijaya Post, Sumatera Ekspres, Pos Kota, Sinar Harapan, dan berbagai media lainnya.
Tahun 1996 menjadi tonggak penting ketika ia resmi bergabung dengan Harian Sumatera Ekspres.
Di sinilah ia belajar bahwa menjadi wartawan bukan sekadar menulis berita. Wartawan adalah saksi zaman.
Wartawan merekam peristiwa sebelum menjadi sejarah.
Selama bertahun-tahun ia meliput berbagai persoalan masyarakat, menyusuri jalan-jalan kota dan desa, mewawancarai tokoh maupun rakyat biasa, lalu menerjemahkan semua itu menjadi informasi yang layak diketahui publik.
Setelah Sumatera Ekspres sebagai. Copy editor dan wartawan, ia bergabung dengan Harian Transparan. Kemudian menjadi koresponden Harian Sore Sinar Harapan hingga media tersebut berhenti terbit pada tahun 2016.
Pengalamannya yang luas membuatnya dipercaya memimpin berbagai media.
Ia pernah menjadi Redaktur Pelaksana Media Publik, Pemimpin Redaksi Grha Media, Redaktur Pelaksana Agung Post, Pemimpin Redaksi Koran Mandiri, Pemimpin Redaksi Majalah Kibar, Pemimpin Redaksi DetikSumsel.com, Pemimpin Redaksi SumselJarrakPos.com, hingga Pemimpin Umum KetikPos.com.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sebagian perjalanan pers Sumatera Selatan dalam tiga dekade terakhir turut menyimpan jejak langkah Muhamad Nasir.
Namun hidupnya tidak hanya berada di ruang redaksi.
Ada satu ruang lain yang tak pernah ia tinggalkan: ruang kelas.
Usai menyelesaikan pendidikan sarjana, ia mengabdikan diri sebagai dosen tetap Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas PGRI Palembang.
Ribuan mahasiswa telah melewati kelas-kelas yang diajarnya.
Sebagian menjadi guru.
Sebagian menjadi wartawan.
Sebagian menjadi birokrat.
Sebagian lagi menjadi penulis.
Mungkin mereka tidak selalu mengingat seluruh materi kuliah yang pernah disampaikan. Tetapi mereka mengingat satu hal: kecintaan terhadap bahasa dan literasi.
Selain di Universitas PGRI Palembang, Nasir juga pernah mengajar di STISIPOL Candradimuka, Universitas Tridinanti, Universitas IBA, Universitas Taman Siswa, hingga Fakultas Komunikasi Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta.
Bagi dirinya, mengajar adalah bentuk lain dari menulis.
Jika tulisan membentuk pembaca, maka pengajaran membentuk generasi.
Dunia sastra kemudian menjadi rumah ketiganya.
Sebagai penulis, Muhamad Nasir tidak membatasi dirinya hanya pada karya jurnalistik. Ia juga aktif menulis karya sastra dan buku-buku referensi.
Kumpulan cerpennya “Kaos Politik” yang terbit tahun 2007 memperlihatkan sisi kreatifnya dalam mengolah realitas menjadi cerita.
Dua cerpennya, “Cinta Tak Berbumbu” dan “Gila Berhitung”, turut menghiasi buku “Bunga Rampai 8 Jurnalis dari Bumi Sriwijaya”.
Selain itu, ia turut menulis berbagai buku penting seperti “Jejak Politik Syahrial Oesman”, “Simpul Kasih Jurai 4 Lawang”, “Kaya dengan Menulis Karya Sastra”, “Siapapun Bisa Menjadi Humas”, “Siapapun Bisa Menjadi Wartawan”, dan “Keterampilan Pers dan Jurnalistik Berbasis Gender”.
Tema-tema yang ditulisnya memperlihatkan satu benang merah: keyakinan bahwa literasi adalah instrumen perubahan sosial.
Perjalanan panjang di dunia literasi dan kebudayaan akhirnya membawanya ke sebuah amanah besar.
Pada Musyawarah Seniman Palembang VI, Muhamad Nasir dipercaya memimpin Dewan Kesenian Palembang periode 2024–2029.
Kepercayaan itu bukan datang secara tiba-tiba.
Sebelumnya ia telah menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Palembang dan aktif dalam berbagai kegiatan budaya, sastra, diskusi publik, peluncuran buku, pembacaan puisi, hingga advokasi kebudayaan.
Baginya, kebudayaan bukan sekadar pertunjukan.
Kebudayaan adalah identitas.
Kebudayaan adalah ingatan kolektif.
Kebudayaan adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Karena itu ia terus mendorong agar seni dan budaya mendapat ruang yang layak dalam pembangunan kota.
Di balik seluruh aktivitas publik tersebut, Muhamad Nasir adalah seorang suami, ayah, dan kakek.
Bersama istrinya, Nurjanah, ia membangun keluarga yang menjadi tempat pulang setelah berbagai kesibukan.
Dari pernikahan itu lahir dua anak, Carisna Aprianti dan Muhamad Nurhidayatullah Pascadh.
Kebahagiaan keluarga semakin lengkap dengan kehadiran dua cucu tercinta, Sean Anandyaksa Abgari dan Raza Artava Sakala, buah hati pasangan Carisna Aprianti dan M. Andy Saputra.
Di usia yang telah melewati setengah abad, kebahagiaan baginya mungkin bukan lagi soal jabatan atau penghargaan.
Melainkan melihat generasi berikutnya tumbuh dengan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan: pendidikan, integritas, dan kecintaan pada ilmu pengetahuan.
Jika ada satu kalimat yang dapat merangkum perjalanan hidup Muhamad Nasir, mungkin kalimat itu adalah ini:
Ia tidak membangun gedung pencakar langit. Ia membangun sesuatu yang lebih tahan lama: manusia yang berpikir, masyarakat yang membaca, dan kebudayaan yang tetap hidup.
Dari ruang redaksi, ruang kuliah, hingga panggung kesenian, Muhamad Nasir terus menjahit peradaban dengan benang-benang kata.
Dan selama masih ada yang membaca, menulis, belajar, dan berkesenian, jejak pengabdiannya akan terus menemukan maknanya.
Laporan : M Nasir

















