OPINI  

Ketika Balet dan Nada Batanghari Sembilan Sudah Mengantarkan Rosa Indiana Menjadi Finalis Bujang Gadis Palembang 2026

Rosa Indiana Jannati Harkha.
Rosa Indiana Jannati Harkha.

“Patah tumbuh, hilang berganti. Gugur satu tumbuh seribu.” Pepatah itu seakan menemukan maknanya dalam perjalanan seorang gadis muda Palembang bernama Rosa Indiana Jannati Harkha.

Di tengah derasnya arus budaya populer yang membanjiri ruang digital, Rosa justru memilih berjalan ke arah yang berbeda. Ketika banyak anak muda mengejar tren global, ia memilih menyanyikan lagu-lagu daerah, mengenakan busana adat, menari, hingga memperkenalkan musik Batanghari Sembilan kepada generasi seusianya.

Pilihan itu kini membawanya melangkah ke panggung yang lebih besar.

Dengan nomor peserta 038, putri pasangan Hamzah dan Rika Aisaby tersebut resmi terpilih sebagai Finalis Bujang Gadis Palembang 2026, ajang yang digelar Dinas Pariwisata Kota Palembang untuk mencari duta wisata sekaligus duta budaya yang akan menjadi wajah Kota Pempek di tingkat regional maupun nasional.

Namun sesungguhnya, perjalanan Rosa tidak dimulai dari ruang karantina Bujang Gadis Palembang.

Perjalanannya dimulai dari panggung-panggung budaya.

Dari latihan yang tak pernah putus.

Dari kecintaannya terhadap warisan leluhur.

Menjadi Bukti Bahwa Budaya Tidak Pernah Kehilangan Pewaris

Beberapa tahun terakhir, masyarakat Sumatera Selatan kehilangan salah satu maestro musik Batanghari Sembilan.

Banyak yang bertanya, siapa yang akan melanjutkan jejak para maestro?

Pertanyaan itu perlahan dijawab oleh lahirnya generasi baru.

Nama-nama seperti Ribuanata, Jefri, Randi Putra Ramadhan, hingga Rosa Indiana mulai menghidupkan kembali irama Batanghari Sembilan melalui berbagai panggung, media sosial, festival budaya, hingga kegiatan pemerintahan.

Mereka membuktikan bahwa musik tradisional tidak pernah mati.

Yang berubah hanyalah generasi pelakunya.

Dan Rosa menjadi salah satu wajah paling menonjol dalam regenerasi tersebut.

Sebuah Pertemuan yang Mengubah Jalan Hidup

Tak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan Rosa membawakan Batanghari Sembilan sebenarnya berawal dari sebuah kebetulan.

Dalam sebuah pertunjukan di Guns Café, yang juga menghadirkan grup musik Payung Teduh, Rosa diminta tampil bersama seniman muda Randi Putra Ramadhan.

Ide sederhana itu datang dari budayawan M. Iqbal Rudianto.

Saat itu ia berpandangan bahwa Batanghari Sembilan memerlukan wajah baru.

Bukan untuk mengubah tradisinya.

Tetapi untuk menghadirkannya dalam bahasa yang dipahami generasi muda.

“Kalau ingin anak muda mencintai Batanghari Sembilan, maka mereka juga harus melihat anak muda yang membawakannya,” begitu kira-kira semangat yang melatarbelakangi gagasan tersebut.

Pilihan kemudian jatuh kepada Rosa.

Saat itu ia telah dikenal sebagai Finalis Putri Remaja Sumatera Selatan 2020 yang berhasil melaju hingga 15 besar nasional serta meraih penghargaan The Best Speech.

Keputusan itu ternyata menjadi titik balik.

Kolaborasi bersama pRandi menghadirkan warna baru dalam musik tradisional Sumatera Selatan.

RR, Duet yang Menghidupkan Tradisi

Publik kemudian mengenal duet Randi-Rosa atau yang akrab disebut RR.

Keduanya bukan hanya tampil menyanyikan lagu daerah.

Mereka menghadirkan energi baru.

Randi dengan kepiawaiannya memainkan alat musik tradisional, seni Dulmuluk, dan vokal.

Sementara Rosa tampil dengan karakter suara yang lembut namun kuat, dipadukan kemampuan public speaking, tari, dan penampilan panggung yang elegan.

Kolaborasi keduanya menjadi bukti bahwa budaya tidak harus tampil kuno untuk tetap dihormati.

Batanghari Sembilan tetaplah Batanghari Sembilan.

Yang berubah hanyalah cara menyampaikannya kepada generasi hari ini.

Dari Ariel NOAH hingga Panggung Budaya

Jauh sebelum dikenal sebagai penyanyi lagu daerah, Rosa sudah menunjukkan bakatnya di dunia seni.

Pada 2019, ia berkesempatan tampil dalam satu panggung bersama Ariel NOAH, pengalaman yang memperkaya rasa percaya dirinya sebagai seorang performer.

Setahun kemudian, namanya kembali mencuat saat mengikuti ajang Putri Remaja Indonesia.

Mewakili Sumatera Selatan, Rosa berhasil menembus 15 besar nasional sekaligus membawa pulang penghargaan The Best Speech, membuktikan bahwa ia bukan hanya memiliki kemampuan artistik, tetapi juga komunikasi yang baik.

Kemampuan inilah yang kini menjadi modal penting dalam mengikuti Bujang Gadis Palembang.

Menghidupkan Dulmuluk dalam Durasi 15 Menit

Tak hanya bernyanyi.

Rosa juga dipercaya bermain dalam dokumentasi seni teater Dulmuluk.

Ia memerankan putri raja dalam kisah Raja Menggala, sebuah produksi yang dikemas hanya dalam waktu lima belas menit.

Padahal pertunjukan Dulmuluk tradisional biasanya berlangsung enam hingga tujuh jam.

Versi singkat tersebut justru menjadi inovasi agar generasi muda dapat mengenal seni pertunjukan klasik Palembang tanpa kehilangan esensi ceritanya.

Rumah Pertama Bernama Keluarga

Di balik setiap seniman selalu ada keluarga yang menjadi penyangga.

Hal itu juga dirasakan Rosa.

Ayah dan ibunya tidak pernah absen mendampingi latihan maupun pertunjukan.

Bahkan sang ibu mengelola Sanggar Harka, usaha penyewaan pakaian adat yang menjadi bagian penting dari perjalanan seni Rosa.

Dari sanggar itulah Rosa belajar bahwa kostum bukan sekadar pakaian.

Busana adalah identitas.

Setiap motif songket, setiap tanjak, setiap aksesorinya menyimpan cerita panjang tentang peradaban Palembang.

Tak hanya itu, Rosa juga mendapat dukungan penuh dari kakaknya, M. Robbi Firly, S.H., yang kini mengabdi sebagai diplomat Republik Indonesia.

“Bagi Rosa, keluarga bukan sekadar tempat pulang, tetapi sumber kekuatan yang membuatnya terus percaya diri melangkah di dunia seni, ” Ujar Ketua Dewan Kesenian Palembang, Muhamad Nasir.

Menimba Ilmu, Menjaga Budaya

Kesibukan tampil di berbagai panggung tidak membuat Rosa melupakan pendidikan.

Ia merupakan alumnus SMAN 1 Palembang dan kini menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

Baginya, pendidikan dan budaya bukan dua dunia yang berbeda.

Justru keduanya saling melengkapi.

Melalui ilmu hukum, ia memahami pentingnya perlindungan terhadap warisan budaya.

Sementara melalui seni, ia menghidupkan nilai-nilai budaya itu dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi Wajah Baru Palembang

Keikutsertaan Rosa dalam Bujang Gadis Palembang bukan sekadar mengejar selempang dan mahkota.

Lebih dari itu, ia membawa misi yang lebih besar.

Ia ingin menunjukkan bahwa Palembang bukan hanya dikenal karena pempek, Jembatan Ampera, atau Sungai Musi.

Palembang juga memiliki Batanghari Sembilan.

Memiliki Dulmuluk.

Memiliki songket.

Memiliki pantun.

Memiliki warisan budaya yang luar biasa.

Dan semuanya layak diperkenalkan kepada dunia.

Menjadi Inspirasi, Bukan Sekadar Juara

Menang atau tidak dalam Bujang Gadis Palembang 2026 mungkin akan tercatat dalam sejarah kompetisi.

Namun ada pencapaian yang jauh lebih penting.

Rosa telah membuktikan bahwa anak muda masih bisa mencintai budaya lokal tanpa kehilangan identitas modernnya.

Ia menunjukkan bahwa seni tradisi tidak harus kalah oleh budaya populer.

Bahwa Batanghari Sembilan masih mampu menggema di panggung-panggung masa kini.

Bahwa seorang mahasiswi hukum dapat berdiri anggun dalam balutan songket, menyanyikan lagu daerah, lalu berbicara lantang tentang pentingnya melestarikan budaya.

Rosa Indiana bukan sekadar finalis Bujang Gadis Palembang 2026.

Ia adalah simbol bahwa estafet kebudayaan Sumatera Selatan masih terus berjalan.

Dan selama masih ada anak-anak muda seperti dirinya, warisan budaya Palembang akan tetap bernyanyi—dari tepian Sungai Musi hingga panggung-panggung dunia.

Laporan : M Nasir