HALOPOS.ID|ACEH TENGGARA – Produksi budidaya ikan air tawar di Kabupaten Aceh Tenggara di tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan dengan produksi tahun 2024.
Berdasarkan data Dinas Perikanan Aceh Tenggara pada tahun 2025 budidaya ikan air tawar untuk jenis Ikan Mas, Lele, Nila dan jurung tercatat memproduksi sebanyak 1.909.137 kilogram.
Sedangkan, pada tahun 2024 tercatat memproduksi sebanyak 2.060569 kilogram.
Hal itu menunjukkan terjadi penurunan angka produksi budidaya ikan air tawar sebanyak 151.432 kilogram. Jika kita bandingkan antara 2024 dengan 2025.
Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya, Dinas Perikanan Aceh Tenggara, Suhada, mengatakan, pada tahun 2025 tercatat ada sebanyak 268 kelompok pembudidaya ikan air tawar dan sebanyak 2.578 orang pembudidaya tersebar di 16 wilayah kecamatan di Aceh Tenggara, kata Suhada kepada Halopos.Id, Senin (27/4/2026).
Suhada menjelaskan, menurunnya produksi ikan air tawar di Aceh Tenggara disebabkan ada beberapa faktor kendala meliput, beralihnya luas lahan kolam tetap yang beralih ke lahan kolam sawah.
Ia menyebutkan luas lahan budidaya ikan air tawar di Aceh Tenggara pada tahun 2024 untuk kolam tetap tercatat seluas 508,75 hektar dan pada 2025 tercatat menjadi 437,5 hektar saja. Artinya, luas lahan kolam tetap berkurang.
“Sedangkan, untuk luas lahan kolam sawah pada tahun 2024 tercatat seluas 146,05 hektar dan pada tahun 2025 menjadi 214,75 hektar,” sebutnya
Hal ini menunjukkan kata Suhada, ada terjadi peralihan lahan kolam tetap menjadi lahan kolam sawah.
Kemudian, dari pemantauan dan pengawasan Dinas Perikanan Aceh Tenggara menemukan semakin naiknya harga pakan pelet ikan juga menjadi kendala yang dikalangan pembudidaya.
Pasalnya, mayoritas pembudidaya ikan di Aceh Tenggara masih mengandalkan pakan pelet dalam berbudidaya ikan air tawar.
Ini juga memunculkan kendala persaingan dalam pemasaran. Dimana pembudidaya lokal Aceh Tenggara harus menjual ikan dengan harga lebih mahal dibandingkan dengan ikan asal daerah lain.
Suhada juga mengatakan, budidaya ikan air tawar di Aceh Tenggara juga memiliki kendala tentang suplai air. Hal itu dipengaruhi rusaknya intake Irigasi D.I Lawe Kisam atau Lawe Ski.
Aliran air dari Irigasi ini merupakan salah satu kebutuhan penting budidaya ikan air tawar di daerah tesebut yaitu sebagai pembantu suplai air bagi kolam terkhusus bagi wilayah Deleng Pokhkisen dan Lawe Bulan.
Dimana, dua wilayah ini merupakan wilayah penghasil dan wilayah budidaya ikan air tawar terbesar di Aceh Tenggara.
“Rusaknya Intake irigasi sangat mempengaruhi kebutuhan suplai air kolam tetap pembudidaya,” kata Suhada.
Berdasarkan penelusuran, daerah memiliki potensi menjadi sentra perikanan air tawar karena memiliki ketersediaan lahan dan sumber daya air yang melimpah.
Aceh Tenggara merupakan salah satu daerah penghasil budidaya ikan air tawar terbesar di Provinsi Aceh.
Pengembangan sektor perikanan merupakan satu dari beberapa misi pemerintah Aceh Tenggara yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten (RPJMK) tahun 2025-2029.
Patut dinanti, apa saja inovasi dan langkah kongkrit pemerintah dalam mengatasi kendala budidaya ikan air tawar yang kini tengah terjadi sebagai wujud keseriusan pemerintah dalam mewujudkan pengembangan di sektor perikanan. (Yusuf)



















