HALOPOS.ID|PALEMBANG – Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang belum mengganggu pelayanan air bersih di Kota Palembang. Perumda Tirta Musi memastikan produksi dan distribusi air kepada pelanggan masih berjalan normal, meski debit Sungai Musi mulai mengalami penurunan.

Direktur Operasional PDAM Tirta Musi Palembang, Rahmad menjelaskan, hingga Juli 2026 produksi air baku di delapan Instalasi Pengolahan Air Minum (IPA) tetap stabil di kisaran 5.500 liter per detik. Kondisi tersebut membuat pasokan air kepada sekitar 376 ribu pelanggan masih terjaga tanpa pengurangan jam pengaliran.
“Dari sisi kuantitas, produksi air tetap stabil. Produksi juga masih sekitar 5.500 liter per detik setiap bulan. Jadi sampai saat ini belum ada penurunan kapasitas,” ujar Rahmad, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, stabilnya produksi tidak lepas dari modifikasi sistem pengambilan air yang dilakukan sejak 2019 di Intake Karang Anyar dan Intake Ogan. Sebelumnya, kedua intake tersebut kerap mengalami kendala saat musim kemarau karena bergantung pada aliran kanal. Kini pompa dapat langsung mengambil air dari Sungai Musi sehingga pasokan tetap terjaga meski permukaan sungai menurun.
“Sejak modifikasi itu dilakukan, kami tidak lagi mengalami kendala berarti dari sisi kuantitas air ketika kemarau,” katanya.
Meski pasokan masih aman, Tirta Musi tetap meningkatkan pengawasan terhadap kualitas air baku. Rahmad menjelaskan, air Sungai Musi saat kemarau memang tampak lebih jernih, tetapi memiliki karakteristik berbeda, terutama pada tingkat keasaman (pH), sehingga membutuhkan penyesuaian dalam proses pengolahan.
Hasil pemantauan menunjukkan pH air masih berada pada kisaran normal, yakni 6,5 hingga 7. Jika diperlukan, perusahaan akan menambahkan kapur untuk menjaga kualitas air sesuai standar.
Perusahaan juga mulai mengantisipasi potensi intrusi air laut apabila musim kemarau berlangsung hingga September atau Oktober. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan air Sungai Musi menjadi payau, meski biasanya akan kembali normal setelah turun hujan.
Di sisi pelayanan, Tirta Musi mengaku belum menerima laporan gangguan distribusi dalam skala luas. Keluhan yang muncul masih bersifat insidental dan tidak memengaruhi pelayanan secara umum.
Selain melayani pelanggan jaringan perpipaan, Perumda Tirta Musi juga menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki bagi warga yang terdampak kekeringan, khususnya di kawasan yang belum terjangkau layanan perpipaan.
“Masyarakat bisa menghubungi Perumda Tirta Musi. Nanti akan kami survei lebih dulu sesuai kebutuhan dan kemampuan distribusi,” ujarnya.
Seiring ancaman kemarau yang masih berlanjut, Tirta Musi mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak dan mengutamakan pemakaian untuk kebutuhan pokok sehari-hari agar cadangan air tetap terjaga.
“Kondisi alam memang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya, jadi yang bisa dilakukan adalah menghemat dan menggunakan air secara lebih bijaksana,” pungkasnya.
Rahmad menyebut kondisi muka air Sungai Musi pada Agustus 2026 relatif sama dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni mengalami penurunan sekitar 1 hingga 1,5 meter.
Perbedaannya, tahun ini PDAM Tirta Musi telah memiliki dukungan operasional IPA Gandus sehingga ketergantungan terhadap IPA Karanganyar dapat dikurangi.
“Kalau tahun sebelumnya IPA Gandus belum beroperasi, sehingga sebagian besar distribusi wilayah ilir sangat tergantung dengan IPA Karanganyar,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, PDAM Tirta Musi untuk sementara belum membutuhkan penambahan pompa pada titik-titik penampungan air.
Meski produksi masih aman, PDAM Tirta Musi mengimbau masyarakat tetap menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.
Hal ini terutama untuk mengantisipasi gangguan yang dapat terjadi di lapangan, termasuk pemadaman listrik dari PLN maupun kebocoran jaringan pipa.
“Kalau ada pemadaman dari PLN, kami mohon masyarakat tetap berhemat dan menampung persediaan air jika terjadi kondisi emergensi,” kata Rahmad.
Saat ini PDAM Tirta Musi melayani sekitar 379 ribu pelanggan di Kota Palembang. Rahmad menjelaskan, cakupan distribusi air selama 24 jam telah mencapai sekitar 75 hingga 80 persen, meski tekanan air yang memenuhi standar pelayanan belum merata.
Sejumlah wilayah yang telah mendapatkan distribusi 24 jam antara lain Tanjung Barangan, sebagian Alang Lebar, TPA, Sako Baru, Seberang Ulu, serta kawasan Rambutan.
Sementara itu, beberapa wilayah masih menghadapi persoalan tekanan air, terutama pada jam pemakaian puncak.
Menghadapi musim kemarau yang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), PDAM Tirta Musi menyatakan kesiapan mendukung kebutuhan air untuk kendaraan pemadam kebakaran.
Rahmad mengatakan, pada tahun sebelumnya PDAM Tirta Musi pernah memasok air untuk kendaraan PBK yang menangani karhutla. Untuk tahun ini, pihaknya belum menerima permintaan resmi terkait bantuan tersebut.
Meski demikian, sejumlah lokasi produksi PDAM telah disiapkan untuk pengisian mobil tangki.
“Sekarang kami siapkan semua untuk pengisian mobil-mobil tangki, baik untuk kebakaran maupun bantuan masyarakat atau pelanggan yang mengambil sendiri ke IPA kita,” katanya.
Menurut Rahmad, langkah tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan PDAM menghadapi musim kemarau, sekaligus memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terjaga di tengah potensi peningkatan kebutuhan air.
PDAM Tirta Musi pun mengingatkan masyarakat agar tidak panik menghadapi musim kemarau, namun tetap menghemat penggunaan air dan menyiapkan cadangan air untuk mengantisipasi gangguan distribusi yang bersifat sementara.
Laporan : Adi
















