DPRD Sumsel Luruskan Hitungan Stok Beras 10 Bulan: Stok 97 Ribu Ton Cuma Cukup Sebulan Lebih

Komisi II DPRD Sumsel saat sidak ke pasar Kenten Laut Kabupaten Banyuasin, Jumat (4/9/2026)
Komisi II DPRD Sumsel saat sidak ke pasar Kenten Laut Kabupaten Banyuasin, Jumat (4/9/2026)

HALOPOS.ID|PALEMBANG – Klaim stok beras Bulog Sumsel aman untuk 10 bulan ke depan dinilai tidak sesuai fakta lapangan. Komisi II DPRD Sumsel meluruskan hitung-hitungan tersebut usai rapat dengan Bulog dan sidak ke pasar.

Anggota Komisi II DPRD Sumsel, Aswan Mufti mengungkapkan, dalam rapat bersama Bulog, OPD terkait dan Satgas Pangan, terungkap stok beras SPHP di gudang Bulog Sumsel saat ini di angka 97.000 ton.

“Ini harus kita luruskan, kasihan Bapak Gubernur diberi info yang keliru tentang masalah stok beras ini,” ujar Aswan, Jumat (4/9/2026).

Menurut Aswan, jika mengacu pada kebutuhan konsumsi warga Sumsel yang mencapai 75.000 ton per bulan, maka stok 97.000 ton itu hanya cukup untuk sekitar satu bulan lebih.

“Kalau untuk 10 bulan kan butuh sekitar 750.000 ton. Jadi sangat tidak cukup,” katanya.

Sidak Kenten Laut: Beras 5 Kg Langka

Aswan mengatakan, tipisnya stok itu terasa langsung di pasar. Hasil sidak di Pasar Kenten Laut, Banyuasin, beras premium 5 kg sulit ditemukan.

Di lapangan, beras premium 5 kg dijual Rp85.000 – Rp90.000, kemasan 10 kg Rp170.000 – Rp175.000, dan kemasan 20 kg Rp310.000 per karung. Sementara beras SPHP Bulog juga dikeluhkan pedagang karena sulit didapat.

“Faktanya beras premium 5 kilogram masih langka dan mahal, padahal ini yang paling banyak dibutuhkan masyarakat,” ucapnya.

Aswan menilai persoalan beras tidak bisa dilihat hanya dari angka stok di gudang, tapi juga dari ketersediaan di pasar dan harga yang harus ditebus warga.

Misteri 2,8 Juta Ton Gabah

Yang janggal, kelangkaan itu terjadi saat produksi gabah Sumsel justru melimpah.

Hingga Agustus 2026, produksi gabah Sumsel sudah 2,8 juta ton. Secara logika, setelah dikonversi jadi beras, jumlah itu sudah surplus.

Khusus Agustus saja, produksinya 420.000 ton gabah. Namun pengusaha penggilingan malah mengeluh gabah langka dan mahal.

“Produksi 2,8 juta ton, Agustus saja 420.000 ton, tapi penggilingan bilang gabah langka. Ke mana gabah kita?” tegas Aswan.

Ia meminta pemerintah menelusuri alur distribusi gabah dari petani sampai pasar, termasuk berapa yang diserap untuk Sumsel dan berapa yang keluar daerah.

“Jangan sampai kita bicara surplus, tapi masyarakat masih sulit dapat beras dan harga tinggi. Harus dilihat dari hulu sampai hilir,” pungkasnya.

Laporan : NT