HALOPOS.ID|PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru turun gunung. Karhutla di Sumsel ditangani dengan komando langsung, bukan dengan rapat di ruangan ber-AC.
Kamis (27/8), Herman Deru mengambil alih komando. Dari Lanud Sri Mulyono Herlambang Palembang, ia memimpin langsung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), lalu terbang dengan patroli udara menyisir titik api di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) – wilayah yang selama ini tidak terjangkau patroli darat.
“Ini tidak bisa dijangkau pakai patroli darat. Karena itu, kita lakukan patroli udara untuk melihat langsung kondisi yang ada,” tegas Herman Deru dengan nada tinggi.
Ini adalah peringatan keras. Penanganan Karhutla tidak boleh main-main.
FAKTA DI LAPANGAN:
1. 53 KALI GEMPUR LANGIT: Sejak Mei 2026, langit Sumsel sudah 53 kali dibombardir garam (NaCl) untuk memaksa hujan turun. Satu gelombang 24 sortie. Pesawat dimodifikasi khusus, dilubangi bagian bawahnya untuk menabur garam.
“Kalau kemarin di beberapa titik terjadi hujan, itu salah satu dampak dari penaburan NaCl ini,” tegasnya.
2. 1.950 HEKTARE TERBAKAR: Sejak status darurat ditetapkan, total 1.950 hektare lahan di 7 kabupaten/kota hangus terbakar. Ini angka yang tidak bisa ditoleransi.
3. SISA API DIKEPUNG: Hari ini, tim di lapangan berhasil melokalisir sisa api. Tinggal 93 hektare di lahan gambut dan 33 hektare di lahan mineral. Langit Palembang mulai cerah, kualitas udara membaik. Tapi Herman Deru menegaskan, itu bukan alasan untuk berhenti.
Hari ini fokus di OKI. Besok wilayah lain akan disisir lagi. Bersama BNPB, Lanud SMH, dan BPBD Sumsel, patroli udara dan darat akan terus digeber.
Pesan Herman Deru jelas: Karhutla harus dipadamkan sampai ke akarnya. Tidak ada tempat bagi pembiaran.
Laporan : Adi
















