Perjuangan Nenek Jumaria Menabung 20 Tahun Demi Haji, Kini Tiba di Tanah Suci

Perjuangan Nenek Jumaria Menabung 20 Tahun Demi Haji, Kini Tiba di Tanah Suci
Perjuangan Nenek Jumaria Menabung 20 Tahun Demi Haji, Kini Tiba di Tanah Suci

HALOPOS.ID/MADINAH – Perjalanan haji Nenek Jumaria menjadi kisah inspiratif tentang perjuangan, kesabaran, dan kerja keras. 

Di usia yang hampir menginjak 70 tahun, perempuan asal Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Maros, Sulawesi Selatan itu akhirnya berhasil menapakkan kaki di Tanah Suci setelah menabung selama hampir dua dekade.

Wajah Jumaria tampak penuh syukur saat mengenang perjuangannya mengumpulkan biaya haji. Tidak ada penghasilan besar atau kehidupan mewah dalam kisahnya.

Seluruh tabungan haji dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil bekerja di sawah dan kebun.

Setiap hari, sejak pagi buta, Jumaria berangkat ke sawah dengan membawa bekal sederhana. Rutinitas itu dijalaninya bertahun-tahun demi mempertahankan harapan bisa beribadah haji.

“Kalau pagi jam 6 pergi ke sawah, bawa air setengah liter. Setelah pulang, mandi, makan, lalu istirahat sebentar sebelum shalat,” tutur Jumaria.

Kisah perjuangan nenek sederhana ini menjadi perhatian publik setelah diunggah oleh Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi melalui akun media sosial @makkahroute.

Sosoknya bahkan dipilih sebagai Ikon Haji 2026 karena keteguhan dan semangat hidupnya yang luar biasa.

Meski hidup seorang diri di rumah sederhana yang berada di tengah area persawahan, Jumaria tetap menjalani kesehariannya dengan bertani. Dari hasil panen padi itulah ia mulai menyisihkan uang untuk tabungan haji.

“Kalau sudah panen padi, saya jual, lalu disimpan,” katanya.

Tak hanya mengandalkan hasil sawah, Jumaria juga bekerja di kebun milik orang lain. Upah yang diterimanya memang kecil, namun selalu disisihkan untuk mewujudkan impiannya ke Tanah Suci.

“Kadang dapat 500, kadang 700. Ada juga yang kasih 200 dari kerja kebun, semuanya saya simpan,” ujarnya.

Perjuangan menabung itu tidak mudah. Jumaria tidak memiliki rekening bank atau tempat penyimpanan khusus. Ia menyembunyikan uang hasil kerjanya di bawah kasur hingga di dalam ember agar tidak terpakai untuk kebutuhan sehari-hari.

“Disimpan di bawah tempat tidur, ditutup kain-kain supaya tidak ada yang tahu,” ucapnya sambil tersenyum.

Sedikit demi sedikit, tabungan itu terus bertambah. Kadang ia hanya mampu menyimpan uang recehan Rp20 ribu hingga Rp100 ribu. Namun selama hampir 20 tahun, tekadnya untuk berhaji tidak pernah berubah.

Dalam kondisi hidup serba sederhana, Jumaria memilih bertahan dengan makanan seadanya agar uang tabungannya tetap utuh. Ia kerap memasak daun ubi atau sayuran yang ada di sekitar rumah.

“Kalau tidak ada lauk, saya masak daun ubi saja. Saya tidak mau ambil uang yang sudah disimpan,” katanya.

Sesekali, ia menikmati telur dari ayam peliharaannya untuk makan sehari-hari. Baginya, hidup sederhana bukan halangan selama impian pergi haji tetap bisa diperjuangkan.

Kini, seluruh pengorbanan dan kerja keras itu akhirnya terbayar. Setelah puluhan tahun menabung dari hasil bertani, Nenek Jumaria berhasil mewujudkan impiannya untuk menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

Kisah Jumaria menjadi bukti bahwa keteguhan hati, kesabaran, dan perjuangan tanpa menyerah mampu mengantarkan seseorang meraih cita-cita besar.