HALOPOS.ID/JEDDAH – Kedatangan jemaah haji gelombang kedua di Terminal Haji Bandara Bandara Internasional King Abdulaziz terus meningkat. Bersamaan dengan itu, petugas Bimbingan Ibadah (Bimbad) PPIH Arab Saudi memperkuat edukasi terkait tata cara ihram agar jemaah dapat menjalankan umrah wajib sesuai ketentuan syariat.
Berbeda dengan jemaah gelombang pertama yang lebih dahulu menuju Madinah, jemaah gelombang kedua harus sudah dalam kondisi siap berihram sebelum tiba di Jeddah. Karena itu, pemahaman mengenai aturan ihram menjadi hal penting yang terus disosialisasikan petugas kepada seluruh jemaah.
Tim Bimbad menemukan masih adanya jemaah yang belum memahami aturan ihram secara benar. Sejumlah pelanggaran yang sering ditemukan di antaranya jemaah laki-laki masih mengenakan pakaian berjahit, seperti pakaian dalam, celana panjang, kaus kaki, hingga sepatu tertutup saat sudah berniat ihram.
Petugas Bimbad PPIH Arab Saudi, Anis Diyah Puspita, menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh kepada jemaah setibanya di bandara. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan jemaah tidak melanggar larangan ihram yang dapat berdampak pada kewajiban membayar dam.
Menurutnya, laki-laki yang sudah berihram wajib melepaskan pakaian berjahit dan tidak diperbolehkan memakai penutup kepala seperti peci maupun topi setelah melafalkan niat ihram.
Sementara itu, edukasi juga diberikan kepada jemaah perempuan. Meski perempuan diperbolehkan memakai pakaian biasa yang menutup aurat, wajah dan telapak tangan tidak boleh tertutup ketika sudah masuk kondisi ihram. Petugas masih menemukan beberapa jemaah perempuan yang mengenakan cadar dan sarung tangan saat tiba di Jeddah.
Petugas mengingatkan bahwa penggunaan cadar maupun sarung tangan harus dilepas setelah niat ihram diucapkan. Jika digunakan sebelum mengambil miqat karena alasan tertentu, seperti cuaca dingin di pesawat, maka atribut tersebut wajib segera dilepas saat ihram dimulai.
PPIH Arab Saudi juga mengimbau jemaah gelombang kedua agar sudah mengenakan kain ihram sejak keberangkatan dari embarkasi di Indonesia. Dengan demikian, saat pesawat melintasi wilayah miqat Yalamlam, jemaah tinggal melafalkan niat umrah wajib tanpa terburu-buru mengganti pakaian.
Sekretaris Daker Bandara, Aruji Maswatu, mengatakan petugas terus melakukan pendampingan dan pengecekan satu per satu untuk memastikan seluruh jemaah telah mengambil miqat dengan benar. Bagi jemaah yang tertidur atau ragu saat pesawat melewati Yalamlam, niat ihram masih dapat dilakukan setibanya di Bandara Jeddah sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah.
Selain itu, petugas juga menegaskan bahwa jemaah perempuan yang sedang haid tetap wajib berniat ihram di miqat. Pelaksanaan umrah dapat dilakukan setelah kondisi suci kembali.
Melalui edukasi intensif di bandara, PPIH berharap jemaah lebih memahami aturan ihram sehingga dapat menjalankan ibadah haji dan umrah dengan tertib, nyaman, serta sesuai tuntunan syariat.



















