Dari Aula ke Ingatan: Ketika Sahilin “Hadir” Kembali Lewat Sebuah Buku

Dari Aula ke Ingatan: Ketika Sahilin “Hadir” Kembali Lewat Sebuah Buku
Dari Aula ke Ingatan: Ketika Sahilin “Hadir” Kembali Lewat Sebuah Buku

HALOPOS.ID|PALEMBANG – Sore itu, Aula Nurul Amal, Sekip, Palembang, tidak hanya dipenuhi kursi dan suara percakapan ringan. Ada sesuatu yang lain—suasana yang sulit dijelaskan, seperti pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Di ruang itulah, sosok Sahilin, maestro Tembang Batanghari Sembilan, seakan “dipanggil pulang” melalui sebuah buku.

Buku berjudul “Sahilin dan Karya Musiknya: Biografi Maestro Tembang Batanghari Sembilan” menjadi pusat perhatian. Ditulis oleh Feri Firmansyah, Irfan Kurniawan, M. Nasir, dan Hasan, buku ini bukan sekadar catatan hidup seorang seniman. Ia adalah rekonstruksi ingatan, pembacaan ulang karya, sekaligus upaya memahami bagaimana tradisi bertahan di tengah perubahan zaman.

Acara bedah buku yang digelar Sabtu (2/4/2026) itu terasa lebih seperti percakapan panjang ketimbang forum formal. Di antara para hadirin—mahasiswa, praktisi musik, dan seniman—nama Sahilin tidak disebut sebagai tokoh masa lalu, melainkan sebagai bagian dari sesuatu yang masih hidup.

“Ini bukan hanya biografi,” ujar Feri Firmansyah dalam pemaparannya. “Kami mencoba melihat Sahilin sebagai pelestari, inovator, dan inspirator.”

Tiga kata itu—pelestari, inovator, inspirator—menjadi kunci untuk memahami Sahilin. Ia menjaga tradisi, tetapi tidak membeku di dalamnya. Ia bergerak, menyesuaikan diri, tanpa kehilangan akar.

Namun, ada satu cerita yang membuat diskusi pagi itu terasa lebih dalam.

Gelar “maestro” yang kini melekat pada nama Sahilin didapat dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (2004). Ia lahir dari ruang yang lebih sunyi—dari pengamatan, dari penghormatan, dari sesama pelaku budaya. Adalah Anwar Putra Bayu, (Asosiasi Tradisi Lisan Sumsel) seorang seniman Sastra Lisan, yang pertama kali mengusulkan gelar tersebut.

Gelar itu tumbuh dari pengakuan komunitas—dari mereka yang benar-benar memahami proses, dedikasi, dan perjalanan panjang seorang seniman.

Dan Sahilin, dengan segala kesederhanaannya, dianggap layak menyandangnya.

Di sisi lain, diskusi juga membuka lapisan lain dari sosok Sahilin yang jarang diketahui publik. Ia ternyata cukup “protektif” terhadap karyanya. Dalam banyak kesempatan, ia mengingatkan penonton agar tidak sembarangan merekam atau menyebarluaskan penampilannya.

Bagi sebagian orang, sikap ini mungkin terasa berlawanan dengan zaman. Tetapi bagi Sahilin, musik bukan sekadar suara yang bisa direkam dan diputar ulang. Musik adalah peristiwa—ia hidup dalam momen, dalam interaksi, dalam ruang yang tidak selalu bisa diulang.

Meski begitu, ada satu peristiwa yang membawa musiknya melampaui batas lokal.

Pada 1994, Sahilin bersama Siti Rohmah direkam oleh seorang peneliti etnomusikologi asing Phillio Yamvolski (etnomusikolog terkemuka Amerika) . Hasil rekaman itu kemudian masuk dalam album Indonesian Guitars. Dari sana, Tembang Batanghari Sembilan—yang lahir dari tradisi lokal—mulai dikenal dalam percakapan musik dunia.

Sebuah ironi kecil pun muncul dalam cerita ini.

Di satu sisi, ada rekaman internasional yang mengabadikan karya Sahilin. Di sisi lain, penampilan terakhirnya justru tidak terdokumentasi sama sekali. Tidak ada video, tidak ada arsip digital. Yang tersisa hanyalah cerita—dari anaknya, dari rekan duetnya, dari mereka yang hadir di malam itu.

Seolah-olah, ada bagian dari Sahilin yang memang “ditakdirkan” untuk hidup hanya dalam ingatan.

Menjelang akhir acara, suasana tidak berubah menjadi formal atau kaku. Tidak ada kesimpulan yang benar-benar ditutup. Diskusi tetap terasa terbuka, menggantung, memberi ruang bagi setiap orang untuk membawa pulang pemaknaan masing-masing.

Beberapa mahasiswa masih bertahan, berdiskusi kecil. Para seniman saling bertukar cerita. Buku yang dibedah sore itu tidak lagi sekadar benda cetak—ia telah berubah menjadi pengalaman bersama.

Dan di titik itu, satu hal menjadi jelas:

Sahilin mungkin telah pergi, tetapi ia tidak benar-benar hilang.

Ia hadir dalam petikan gitar yang pernah dimainkan, dalam pantun yang pernah dilantunkan, dalam cerita yang terus diulang, dan kini—dalam halaman-halaman buku yang dibedah di sebuah aula sederhana di Palembang.

Dari aula itu, ingatan tentang Sahilin kembali bergerak.

Dan barangkali, akan terus bergerak.

Laporan : Nasir