HALOPOS.ID|PALEMBANG – Kehidupan kerap menyuguhkan kisah yang menyentuh hati, mengajarkan makna perjuangan dan harapan di tengah keterbatasan yang sulit dibayangkan.
Di RT 18 RW 04 Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang, ada kisah yang menggugah perasaan, tentang ibu dan anak yang harus menanggung beban berat namun tak pernah padam harapannya akan pertolongan. Lidia, 44 tahun, dan putrinya Rahmi Alia, 21 tahun, tidak dapat menjalani hidup seperti kebanyakan orang. Keduanya mengalami keterbelakangan mental, sehingga tidak mampu mengurus diri sendiri, beraktivitas, atau memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.
Ujian ini terasa makin berat karena mereka hidup dalam keterbatasan ekonomi yang mendalam. Tanpa penghasilan tetap dan kemampuan untuk berusaha, satu-satunya tempat bergantung adalah sang nenek yang sudah lanjut usia. Demi menyambung hidup, wanita tua ini harus bekerja apa saja yang bisa didapatkan, mengerjakan pekerjaan serabutan yang hasil dan waktunya tak menentu. Ia berjuang sekuat tenaga hanya agar ada makanan dan kebutuhan dasar terpenuhi sekadarnya. Seharusnya di usia senja ia bisa beristirahat dengan tenang, namun kewajiban merawat anak dan cucu yang tak berdaya membuatnya terus berjuang, menjadi satu-satunya penyangga hidup keluarga itu.
Kesedihan dan keprihatinan juga dirasakan warga sekitar yang setiap hari menyaksikan perjuangan keluarga ini. Neneng, salah seorang warga yang sudah lama mengenal mereka, menceritakan dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
“Setiap hari saya melihat keadaan mereka, betapa sulitnya hidup yang mereka jalani. Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengubah nasibnya sendiri, hanya bisa menunggu apa saja yang bisa didapatkan. Keadaan mereka benar-benar memilukan, siapa pun yang melihat pasti akan terenyuh dan sedih. Rasanya tak tega melihat mereka terjebak dalam keterbatasan dan kesulitan tanpa daya untuk berbuat apa-apa,” ujarnya penuh haru.
Dari keprihatinan itu, muncul harapan besar yang disampaikan warga kepada pihak berwenang, terutama Dinas Sosial Kota Palembang dan instansi terkait. Salah satu keinginan terbesar adalah agar Lidia dan Rahmi Alia mendapatkan penanganan medis yang layak di Rumah Sakit Ernaldi Bahar. Mereka meyakini, dengan perawatan dan penanganan yang tepat sesuai kebutuhan kesehatan mereka, bukan tidak mungkin kondisi keduanya bisa membaik, bahkan bisa menjalani hidup dengan lebih baik dan layak seperti orang lain. Harapan ini menjadi cahaya di tengah kesulitan yang mereka alami selama ini.
“Kami hanya bisa berharap dan berdoa, semoga pemerintah mendengar dan melihat keadaan mereka yang tak mampu menyampaikan keinginannya sendiri. Jangan biarkan mereka terus terlantar dalam kesusahan. Jika ada perhatian dan bantuan, serta perawatan yang diberikan dengan sungguh-sungguh, siapa tahu harapan mereka untuk hidup lebih baik bukan sekadar mimpi. Setiap warga berhak mendapatkan perlindungan dan perawatan, dan kami berharap hak itu bisa mereka dapatkan,” tambah Neneng mewakili perasaan seluruh warga di lingkungan tersebut.
Hingga saat ini, keduanya masih menjalani hari-hari dengan segala keterbatasan yang ada, masih bergantung pada keteguhan hati dan perjuangan sang nenek. Namun harapan akan pertolongan dan perubahan nasib tak pernah padam. Semoga suara dan doa mereka sampai ke telinga pihak yang berwenang, dan langkah nyata segera diambil agar air mata kesedihan mereka bisa berubah menjadi senyuman, serta keterbatasan yang ada tak lagi menjadi penghalang untuk hidup dengan layak dan bermakna.
Laporan : Yanto



















