HALOPOS.ID|PALEMBANG – Uji coba perdana Car Free Night (CFN) dan Car Free Day (CFD) di Kota Palembang langsung menuai sorotan publik. Beragam kritik tajam warganet di media sosial tak menunggu lama, dan segera direspons oleh Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, dengan menggelar evaluasi menyeluruh.
Evaluasi tersebut melibatkan jajaran Pemerintah Kota, kepolisian, hingga Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan. Dalam rapat itu, sejumlah persoalan krusial mengemuka, terutama terkait buruknya pengaturan lalu lintas saat pelaksanaan CFD.
Ratu Dewa menyoroti kemacetan parah yang terjadi di kawasan Jembatan Musi 4 dan Jembatan Musi 6. Penutupan jalur sepanjang 2,8 kilometer, termasuk Jembatan Ampera, disebut memicu kepadatan kendaraan yang mengular tanpa pengaturan optimal.
“Dari pantauan dan laporan langsung warga ke media sosial saya, tidak ada petugas Dishub yang berjaga di titik tersebut. Ini menyebabkan kemacetan luar biasa,” tegasnya.
Kritik warga pun ramai bermunculan, bahkan banyak yang melakukan siaran langsung dari lokasi kemacetan dengan nada protes tajam. Kondisi ini diakui sebagai kelemahan dalam pelaksanaan perdana.
Menindaklanjuti hal tersebut, Pemkot memutuskan menunda peluncuran resmi CFD yang semula dijadwalkan pada 19 April 2026. Uji coba akan kembali dilakukan pekan depan dengan skema rekayasa lalu lintas baru.
“Dishub dan Dirlantas harus melakukan kajian komprehensif, termasuk penempatan personel di jalur alternatif agar kemacetan bisa diurai,” ujarnya.
Sementara itu, pelaksanaan CFN di kawasan Jalan Kolonel Atmo dinilai berjalan cukup baik, namun tetap menyisakan sejumlah catatan penting. Salah satunya persoalan sampah dan minimnya fasilitas tempat pembuangan sementara (TPS).
Ratu Dewa meminta peningkatan edukasi kepada pedagang dan pengunjung, termasuk melalui peran aktif Dinas Komunikasi dan Informatika dengan mobil sosialisasi keliling.
Selain itu, lonjakan pengunjung di kawasan yang sebelumnya relatif sepi pada malam hari menuntut penataan parkir yang lebih tertib. Ia menegaskan agar tarif parkir tidak melanggar aturan serta meminta pendataan juru parkir resmi.
“Penataan kantong parkir harus jelas. Jangan sampai muncul tarif liar,” tegasnya.
Tak hanya itu, aspek keamanan dan kenyamanan juga menjadi perhatian. Personel Satpol PP diminta lebih mobile, tidak hanya berkumpul di satu titik.
Untuk konsep acara, Ratu Dewa mendorong agar CFN lebih menonjolkan identitas budaya lokal. Ia mengusulkan penampilan seni khas Palembang seperti dulmuluk, pertunjukan komedi santun, hingga pelibatan komunitas seni dan UMKM lokal.
“CFN harus punya ciri khas Palembang, dari hiburan hingga kuliner. Ini bukan sekadar penutupan jalan, tapi ruang publik yang hidup dan berbudaya,” katanya.
Peluncuran resmi CFN sendiri direncanakan pada 18 April 2026 dan akan dihadiri Gubernur Sumatera Selatan.
Ratu Dewa menegaskan, seluruh evaluasi yang dilakukan bukan sekadar formalitas, melainkan akan segera ditindaklanjuti.
“Pemkot berkomitmen memperbaiki semua kekurangan agar CFN dan CFD benar-benar menjadi ruang publik yang sehat, aman, dan mendidik,” tutupnya.



















