HALOPOS.ID|PALEMBANG – Bank Indonesia (BI) mengingatkan adanya potensi risiko yang dapat memengaruhi pergerakan inflasi di Sumatera Selatan (Sumsel) pada awal 2026. Meski demikian, inflasi daerah ini masih diprakirakan tetap berada dalam rentang sasaran.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel, Bambang Pramono, mengungkapkan bahwa pada Desember 2025 inflasi tercatat sebesar 0,49 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 2,91 persen secara tahunan (year on year/yoy).
“Capaian inflasi Sumatera Selatan masih berada dalam rentang aman. Namun ke depan ada beberapa faktor yang perlu diantisipasi bersama,” ujar Bambang, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi inflasi dalam beberapa bulan ke depan antara lain tren peningkatan konsumsi masyarakat pada peringatan Isra Mi’raj dan periode Tahun Baru Imlek.
Selain itu, tekanan harga pangan dan komoditas hortikultura juga perlu diwaspadai seiring curah hujan yang diprakirakan masih tinggi hingga Februari 2026. Kondisi tersebut diperparah dengan sisa dampak banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatra yang berpotensi mengganggu kelancaran pasokan ke pasar.
“Oleh karena itu, penguatan koordinasi pasokan dan distribusi pangan menjadi sangat penting agar ketersediaan tetap terjaga dan harga dapat dikendalikan,” katanya.
Selain kelompok volatile food, Bambang menambahkan komoditas dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga perlu diantisipasi, khususnya emas perhiasan. Menurutnya, harga emas perhiasan masih berpotensi bertahan pada level tinggi akibat dinamika global yang memengaruhi inflasi inti.
Meski begitu, laju inflasi Sumsel diprakirakan tetap tertahan oleh normalisasi permintaan setelah periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
“Inflasi diprakirakan tertahan seiring normalisasi permintaan pasca libur akhir tahun, ditambah adanya penurunan harga BBM non-subsidi di awal Januari 2026,” tutupnya.















