HALOPOS.ID|PALEMBANG – Meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan mulai meningkatkan kewaspadaan sektor kesehatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mengingatkan balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis menjadi kelompok paling rentan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogahtriyah, mengatakan meski tren kasus ISPA pada semester pertama 2026 masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu, ancaman peningkatan kasus diperkirakan terjadi saat puncak musim kemarau pada Agustus hingga September.
“Semester pertama memang menunjukkan tren yang lebih baik, tetapi memasuki Agustus hingga September kita tetap harus waspada karena kualitas udara berpotensi menurun akibat karhutla,” ujarnya.
Menurut Ira, kelompok rentan memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah sehingga lebih mudah mengalami gangguan pernapasan saat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan dalam waktu lama.
Balita menjadi kelompok yang paling berisiko karena sistem kekebalan tubuh dan organ pernapasannya belum berkembang sempurna. Sementara pada lansia, penurunan fungsi paru-paru akibat faktor usia membuat mereka lebih mudah mengalami komplikasi.
Ibu hamil juga perlu mendapat perhatian khusus karena paparan polusi udara tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi janin. Begitu pula penderita penyakit kronis seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung, maupun diabetes yang berpotensi mengalami perburukan kondisi saat kualitas udara memburuk.
ISPA sendiri merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan hingga paru-paru. Penyakit ini dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur maupun paparan polusi udara, termasuk asap kebakaran hutan dan lahan.
Gejala yang umum muncul antara lain batuk, pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas. Pada kondisi berat, penderita dapat mengalami sesak napas, nyeri dada, demam tinggi yang tidak kunjung turun, bahkan bibir membiru sehingga memerlukan penanganan medis segera.
Mengantisipasi dampak kabut asap, Dinkes Sumsel telah mengeluarkan Surat Edaran kepada seluruh Dinas Kesehatan kabupaten dan kota sejak 2 Juni 2026 sebagai tindak lanjut Status Siaga Darurat Bencana Asap akibat Karhutla yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Sumsel.
Melalui edaran tersebut, pemerintah daerah diminta memperkuat surveilans penyakit, meningkatkan edukasi kepada masyarakat, mengaktifkan pemantauan kualitas udara, serta memastikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan siap menghadapi lonjakan pasien.
“Kami sudah meminta seluruh Dinas Kesehatan kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, memperkuat surveilans penyakit, hingga menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan apabila terjadi peningkatan kasus,” kata Ira.
Selain itu, daerah yang terdampak karhutla diminta menyiapkan posko kesehatan, memastikan ketersediaan logistik kesehatan, serta melaporkan perkembangan kasus ISPA dan pneumonia setiap pekan.
Berdasarkan data Dinkes Sumsel, Kota Palembang masih menjadi daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi selama Januari–Juni 2026, yakni mencapai 85.032 kasus. Selanjutnya Muara Enim 30.668 kasus, Musi Banyuasin 17.946 kasus, OKU Timur 15.109 kasus, Banyuasin 14.140 kasus, Musi Rawas 13.700 kasus, dan Lahat 13.523 kasus.
Dinkes Sumsel mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker, menjaga kualitas udara di dalam rumah, memperbanyak konsumsi air putih, mengonsumsi makanan bergizi, serta menghindari paparan asap rokok dan pembakaran sampah.
“Jangan menunggu sampai kondisi menjadi berat. Bila keluhan tidak membaik atau muncul sesak napas, segera datang ke puskesmas atau rumah sakit agar dapat ditangani lebih cepat,” tegas Ira.
Laporan : Adi
















