HALOPOS.ID|PALEMBANG— Ramadan di Palembang tak hanya menghadirkan suasana religius, tetapi juga menjadi ruang temu hangat bagi para pelaku seni dan budaya. Senin sore, 16 Maret 2026, Gedung Kesenian Palembang dipenuhi percakapan akrab, tawa ringan, serta diskusi yang sarat makna tentang arah masa depan kesenian kota ini.
Agenda silaturahmi dan buka puasa bersama yang digagas Dewan Kesenian Palembang (DKP) menjelma lebih dari sekadar tradisi Ramadan. Kegiatan ini menjadi ruang dialog lintas generasi—tempat gagasan, kegelisahan, dan harapan bertemu dalam suasana penuh kehangatan.
Seni Butuh Ruang dan Perlindungan
Ketua DKP, M. Nasir, menegaskan pentingnya forum kebudayaan yang berkelanjutan demi masa depan para pelaku seni.
“Kita ingin memastikan para seniman memiliki masa depan yang jelas. Aktivitas berkesenian perlu payung hukum agar terlindungi dan berkembang optimal,” ujarnya.
Isu tersebut menjadi benang merah diskusi bertema “Nasib Seniman dari Masa ke Masa – Gedung Kesenian Palembang.”
Budayawan Vebri Al Lintani bersama akademisi seni Hasan MSn mengajak peserta merefleksikan perjalanan seni Palembang—dari akar tradisi hingga lanskap kontemporer. Regenerasi seniman, keterbatasan ruang ekspresi, serta pentingnya keberpihakan kebijakan menjadi pokok bahasan yang mengemuka.
Kolaborasi untuk Ekosistem Budaya
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Ki Agus Sulaiman Amin, menilai forum ini sebagai simpul kolaborasi strategis antara pemerintah dan komunitas seni.
“Pembangunan kebudayaan tidak bisa berjalan sendiri. Semua pihak harus terlibat membangun ekosistem yang kuat.”
Apresiasi juga disampaikan Pemerintah Kota Palembang melalui Staf Ahli Wali Kota Bidang Pemerintahan, Sosial, dan Kemasyarakatan, M. Syahrudin Hajar—akrab disapa Bang Andre.
“Kolaborasi yang erat akan menjaga warisan budaya sekaligus melahirkan inovasi yang membanggakan bagi Palembang.”
Dipandu MC Dina Tanjung, diskusi berlangsung hangat dan dinamis. Sejumlah masukan mengalir dari berbagai pelaku seni, di antaranya Randi Putra Ramadhan, pemain teater tradisi Dulmuluk, serta Cek Eri Tanjak, pegiat seni wastra.
Jejaring Budaya yang Menguat
Pertemuan ini memperlihatkan kuatnya jejaring kebudayaan Palembang—menghubungkan tokoh adat, komunitas akar rumput, pejabat pemerintahan, hingga seniman lintas disiplin dalam satu ruang kebersamaan.
Sejumlah tokoh dan undangan yang hadir antara lain:
Sultan SMB IV RM Fauwass Diraja
Khaerul (Irul Bae), Kabid Destinasi mewakili Plt Kepala Dinas Pariwisata
Riyan Primansyah — Perwakilan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumatera Selatan
Dian Permata — Perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan
Kgs. M. Riduan — Ketua KKPP
M. Fitriansyah — Ketua Komunitas Kawan Lamo
Chairman — Ketua Komunitas Gong Sriwijaya
Josef — Ketua KCFI
Achmad — Studio 12
Delian — Musisi Kafe Gending
Rhompal — Sangkurlana
Wak Dollah — Teater Wong Gerot
Dari internal DKP turut hadir:
Fir Azwar — Pembina
Moh — Ketua Komite Musik
Hasan — Ketua Komite Teater
Irmansyah — Ketua Komite Tari
Slamet Nugroho — Ketua Komite Sastra
Eddy Fahyuni — Komite Seni Rupa
Marta Astra — Komite Seni Rupa
Kms. Ari Panji dan Silo Siswanto — Bidang Litbang
Yos Sudarson — Teater
Hardi Buhut dan Susan — Bidang Humas
Serta seniman dan pegiat budaya lainnya: Mamen, Teti Sutrisno, Rizma, Melody Lia, Cek Eri Tanjak, Amir Antik, dan ibu-ibu KKPP.
Menjaga Warisan, Menyalakan Masa Depan
Menjelang waktu berbuka, percakapan belum benar-benar usai. Diskusi sore itu menjelma menjadi tekad bersama: seni Palembang harus terus hidup, berkembang, dan terlindungi.
Para seniman berharap forum ini melahirkan langkah konkret—mulai dari regulasi yang berpihak, ruang berekspresi yang memadai, hingga pengakuan profesi seniman sebagai penjaga identitas budaya.
Sebab seni bukan sekadar pertunjukan.
Ia adalah napas kota.
Ia adalah ingatan kolektif.
Ia adalah jembatan antara warisan dan masa depan.
Dan di Gedung Kesenian Palembang, nyala itu kembali dijaga—bersama.

















