PAD Jember Tembus Rp1 Triliun: Tertinggi Nomor 5 se-Jatim

Bupati Jember Muhammad Fawait
Bupati Jember Muhammad Fawait

HALOPOS.ID/JEMBER- Kabupaten Jember menorehkan capaian penting dalam tata kelola fiskal daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jember resmi menembus angka di atas Rp1 triliun, menempatkan Jember di peringkat 5 dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur, sekaligus peringkat 1 se-Karesidenan Besuki (Sekarkijang).

Capaian ini bukan sekadar soal angka, melainkan penanda perubahan paradigma. Jember membuktikan bahwa peningkatan PAD tidak harus ditempuh dengan menaikkan tarif pajak dan retribusi yang membebani rakyat.

“Pajak dan retribusi tidak boleh menjadi alat yang mencekik masyarakat. Justru harus kita kelola sebagai instrumen untuk membangun peradaban dan kesejahteraan,” tegas Bupati Jember Muhammad Fawait Kamis (22/1/2025)

Di tengah situasi pengetatan fiskal nasional dan tuntutan efisiensi anggaran, Pemkab Jember justru mengambil langkah yang tidak lazim.

Di bawah kepemimpinan Gus Fawait, pemerintah daerah tidak menaikkan tarif, melainkan menerapkan insentif fiskal yang terukur dan berbasis data—mulai dari penurunan retribusi pasar, penggratisan retribusi parkir, hingga pengurangan bahkan pembebasan pajak tertentu pada momentum strategis.

Menurut Gus Fawait, kebijakan tersebut bukan keputusan populis tanpa hitung-hitungan.

“Setiap kebijakan fiskal yang kami ambil berbasis data dan kajian. Kami hitung dampaknya terhadap aktivitas ekonomi dan kepatuhan wajib pajak. Ketika masyarakat diberi ruang bernapas, ekonomi bergerak, dan PAD justru tumbuh,” ujarnya.

Pendekatan ini menjadikan kebijakan fiskal Jember bersifat genuine—karena berani keluar dari pola lama di tengah tekanan fiskal—dan sekaligus otentik, karena bertumpu pada analisis ilmiah, bukan sekadar intuisi atau kepentingan jangka pendek.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Jember, Achmad Imam Fauzi menegaskan bahwa peningkatan PAD tersebut merupakan hasil dari rekayasa kebijakan fiskal yang presisi, bukan kebetulan.

“Kami melihat bahwa insentif fiskal yang diberikan secara terukur justru meningkatkan kepatuhan wajib pajak dan memperluas basis penerimaan. Jadi yang naik bukan tarifnya, tetapi partisipasi dan aktivitas ekonominya,” ujar Kepala Bapenda Jember Achmad Imam Fauzi Selasa (22/01/2026)

Faktor penentu lainnya adalah integrasi dan kolaborasi lintas OPD penghasil PAD. Sekat birokrasi yang selama ini memperlambat kinerja dilebur menjadi kerja bersama yang cair dan adaptif.

“Saya tidak ingin OPD berjalan sendiri-sendiri. Target PAD adalah target bersama. Tidak boleh ada ego sektoral, yang ada adalah kolaborasi,” kata Gus Fawait.

Namun, seluruh strategi tersebut tak akan menghasilkan lompatan kinerja tanpa kepemimpinan yang kuat dan konsisten. Gus Fawait dinilai berhasil mengelaborasi seni leadership—menggabungkan keberanian mengambil keputusan, ketegasan arah kebijakan, serta kemampuan menggerakkan birokrasi—hingga Jember mampu mencatatkan prestasi fiskal yang signifikan.

Dari peringkat pertama di Sekarkijang hingga lima besar Jawa Timur, Jember kini tidak hanya berbicara soal capaian PAD, tetapi juga menghadirkan model kemandirian fiskal yang berkeadilan, rasional, dan berkelanjutan.

Penulis: SupriadiEditor: Herwanto