Minggu Pagi yang Mencekik, Palembang Kembali Ditelan Asap Kiriman Karhutla

Suasana kota Palembang Diselimuti Asap Pekat, Minggu Pagi, (4/10/2026).
Suasana kota Palembang Diselimuti Asap Pekat, Minggu Pagi, (4/10/2026).

HALOPOS.ID|PALEMBANG – Palembang kembali kalah oleh asap. Tepat Minggu pagi (4/10/2026), selimut kabut tebal menyergap kota. Bukan tipis, tapi pekat dan menggantung rendah di atas permukiman.

Dari Ulu hingga Ilir, langit terlihat kusam kekuningan. Udara yang masuk ke hidung terasa kering dan menyengat. Warga yang hendak beraktivitas di luar ruangan terpaksa putar balik.

Kondisi ini bukan kejadian tunggal. Dalam beberapa hari terakhir, Palembang memang terus berada dalam bayang-bayang polusi berat. Data kualitas udara bahkan pernah menyentuh level berbahaya, dengan partikel halus PM2.5 yang jauh di atas ambang aman.

Sumbernya masih sama: kebakaran hutan dan lahan dari wilayah penyangga Sumsel yang asapnya tersapu angin masuk ke jantung kota.

Tak Bisa Keluar Rumah

Bagi warga, ini sudah masuk fase mengganggu keselamatan.

Seorang warga Palembang yang ditemui Halopos mengaku memilih tidak keluar rumah karena kondisi pagi ini jauh lebih buruk dari biasanya.

“Baru buka pintu, langsung terasa. Asapnya nusuk di hidung, mata langsung perih. Berat sekali udaranya. Daripada sakit, mending di rumah saja hari ini,” kata dia.

Ia mengaku cemas, terutama untuk anak-anak yang harus tetap berangkat sekolah dan warga yang harus tetap bekerja di jalan.

“Harusnya ada tindakan cepat. Kasihan kami yang di kota ini, kena imbas terus. Tiap tahun begini,” keluhnya.

Keluhan itu bukan satu-dua orang. Sebelumnya banyak warga melaporkan gejala serupa: mata merah, batuk kering, sesak napas, dan tenggorokan gatal akibat paparan asap berkepanjangan.

Bukan Soal Jarak Pandang, Tapi Soal Nyawa

BMKG menegaskan, memburuknya udara di Palembang merupakan dampak akumulasi asap karhutla dari beberapa kabupaten di Sumsel yang terbawa angin. Artinya, Palembang menjadi muara dari kegagalan penanganan di hulu.

Ini bukan lagi soal jarak pandang terbatas. Ini soal kelompok rentan. Balita, lansia, ibu hamil, dan penderita asma menjadi yang pertama tumbang jika pembiaran terus terjadi.

Pemerintah dan instansi terkait didesak tidak hanya muncul saat kualitas udara sudah masuk kategori berbahaya. Yang dibutuhkan warga adalah kepastian: pemantauan udara yang transparan, masker gratis, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, dan yang paling penting, pemadaman total di titik api.

Langkah Polrestabes Palembang yang membuka posko kesehatan gratis untuk korban ISPA akibat asap menjadi bukti bahwa dampaknya sudah masuk fase medis.

Udara Bersih Jadi Barang Mahal

Minggu pagi ini menjadi pengingat pahit. Ketika sebuah kota metropolitan harus berjuang hanya untuk mendapatkan udara bersih, ada yang salah dengan penanganan bencananya.

Di balik asap yang pekat itu, ada ribuan warga yang tetap harus mencari nafkah, ada pengemudi ojek yang tetap harus di jalan, ada anak-anak yang paru-parunya masih butuh udara bersih untuk tumbuh.

Palembang tidak boleh dibiarkan bernapas dalam kepungan asap setiap tahun. Warga butuh solusi permanen, bukan sekadar imbauan untuk memakai masker.

Laporan : Adi