Sisa September Jadi Masa Kritis, BMKG Harapkan Hujan 18 dan 21 September Turunkan Titik Api

Gedung BMKG Palembang
Gedung BMKG Palembang

HALOPOS.ID|PALEMBANG – Masa kering di Sumatera Selatan belum akan berakhir dalam waktu dekat.

BMKG Sumsel memproyeksikan kondisi tanpa hujan yang dominan masih akan bertahan hingga penghujung September, bahkan meleset sampai akhir Oktober 2026. Imbasnya, ancaman kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap masih tinggi.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Sumsel, Wandayantolis, membeberkan hasil pantauan dasarian pertama September menunjukkan sebagian besar kabupaten/kota di Sumsel masuk kategori sangat kering.

“Memang ada hujan di tanggal 10, 11, 12 September kemarin. Itu dampak dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang kita lakukan. Tapi belum sesuai target, hujannya masih ringan-sedang dan sporadis,” ungkap Wandayantolis saat Rakor Karhutla bersama Menhut, BNPB dan Gubernur Sumsel, Selasa (15/9) sore.

Meski belum maksimal, ia menilai OMC tetap membawa sinyal positif karena sudah berhasil memicu pertumbuhan awan menjadi hujan, meski awannya masih tipis.

Dari peta kekeringan, dua wilayah tercatat paling parah: Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Komering Ulu (OKU).

Prediksi Musim Hujan Mundur

BMKG memperkirakan hujan baru akan mulai menyentuh Sumsel secara bertahap mulai Oktober, diawali dari utara ke tengah. Daerah seperti Banyuasin, Muba, Muratara, OKI selatan dan sebagian OKU mulai kebagian hujan.

Namun hujan merata dengan intensitas di atas 50 milimeter per dasarian baru diprediksi terjadi pada November 2026, yang menjadi penanda awal musim hujan 2026/2027.

“September sampai awal Oktober ini hari tanpa hujannya masih sangat tinggi. Potensi hujan masih di bawah 50 mm,” tegasnya.

Terbukti, Asap ke Riau-Jambi dari Sumsel

Fakta lain yang diungkap BMKG, kepulan asap yang terpantau bergerak ke utara Sumatera dipastikan bersumber dari Sumsel. Kesimpulan itu didapat setelah kemunculan geohotspot di Sumsel beriringan dengan pergerakan asap, sementara di Jambi dan Riau saat itu nihil hotspot signifikan.

Artinya, karhutla di Sumsel kini tidak hanya berdampak lokal, tapi sudah lintas provinsi.

Ada Celah Hujan Minggu Ini

Di tengah ancaman itu, ada sedikit angin segar. Model cuaca BMKG mendeteksi peluang pembentukan awan kuat pada 18 dan 21 September 2026. Jika terjadi, hujan tersebut diharapkan mengguyur kantong-kantong hotspot.

Sayangnya, angin timuran bisa menggeser awan. Awan yang tumbuh di barat berpotensi terdorong makin ke barat, sehingga lokasi hujan bisa meleset dari prediksi.

Jika hujan itu jadi turun, indeks kemudahan terbakar diprediksi langsung anjlok pada 19 September dan 22 September. Dalam peta model BMKG, penurunan itu ditandai dengan munculnya warna biru dan kuning.

Udara Palembang Sempat Berbahaya

BMKG juga menyoroti kualitas udara. Data PM2,5 menunjukkan konsentrasi polutan hampir setiap hari sempat menyentuh level berbahaya, meski hanya 2-3 jam. Secara rata-rata harian, kualitas udara Sumsel masih dalam status tidak sehat dan fluktuatif.

“Secara fluktuatif bisa mencapai kondisi berbahaya,” pungkasnya.

Laporan : Adi