HALOPOS.ID|JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengingatkan risiko lonjakan harga beras nasional. Jika ketergantungan terhadap impor tidak diatasi, harga beras di pasaran bisa naik hingga Rp16.000 sampai Rp20.000 per kilogram.
Peringatan itu disampaikan Zulhas dalam peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta Pusat dikutip dari CNN, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, mahalnya harga beras berpotensi menggeser pola makan masyarakat. Ketika harga beras tidak terjangkau, warga akan beralih ke pangan berbahan gandum yang lebih murah seperti roti.
“Kalau kita terus tidak mau tahu, nanti harga beras kita bisa sampai Rp16 ribu, Rp20 ribu. Sementara harga gandum akan murah. Orang akan pindah makannya,” ujar Zulhas.
Zulhas menyoroti timpangnya ongkos produksi beras dalam negeri dibanding negara tetangga. Ia menyebut, untuk menghasilkan satu kilogram beras, petani Indonesia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp12.000. Sementara di Thailand dan Vietnam, biaya yang sama hanya sekitar Rp3.800.
“Betapa kita kalah jauh tertinggal,” katanya. Perbedaan itu, lanjut dia, disebabkan penguasaan teknologi, penggunaan varietas unggul, dan sistem pengelolaan lahan yang lebih efisien di negara lain.
Dampaknya terlihat pada konsumsi gandum nasional. Saat ia menjadi anggota DPR pada 2004, konsumsi gandum Indonesia baru 3-4 juta ton per tahun. Kini angkanya melonjak menjadi 13 juta ton, padahal gandum tidak bisa dibudidayakan di dalam negeri.
“Kenapa konsumsi gandum naik 13 juta ton? Karena beras kita mahal, gandumnya murah, konsumsinya pindah,” jelasnya.
Zulhas menambahkan, ketergantungan impor tidak hanya terjadi pada gandum. Sepanjang 2024, Indonesia tercatat mengimpor 4,5 juta ton beras, 4 juta ton kedelai, rata-rata 6 juta ton gula, serta sekitar 1 juta ekor sapi per tahun.
Ia menilai kondisi ini berisiko bagi ketahanan pangan. Saat menjabat sebagai Menteri Perdagangan, ia mengaku pernah kesulitan mendapatkan pasokan beras dari luar negeri.
Masalah lain yang disoroti adalah bibit. Zulhas menyebut hampir seluruh bibit tanaman pangan masih impor dan bersifat sekali pakai, termasuk ayam. Untuk kedelai, produktivitas di Indonesia baru 1 ton per hektare, sedangkan negara lain yang telah menerapkan rekayasa genetik bisa mencapai 10 ton per hektare. Akibatnya harga kedelai lokal jadi 3-4 kali lebih mahal.
Pemerintah, kata Zulhas, tidak akan mengejar swasembada untuk semua komoditas sekaligus. Fokus saat ini adalah beras dan jagung, baru kemudian menyusul gula, garam, ikan, dan daging.
“Tidak semua kita lakukan sekaligus. Kita bertahap. Sekarang beras, jagung, kemudian berkembang ke gula, sama garam, terus ikan, daging belakangan, enggak mudah juga daging itu,” tuturnya.
Ia mengakui masih banyak pekerjaan rumah untuk menekan biaya produksi, terutama mekanisasi pertanian dan peningkatan produktivitas.
Laporan : Redaksi
















