HALOPOS.ID|BANYUASIN – Pengecoran Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatera, tepatnya di ruas Jalan Nasional KM 17 batas Palembang-Betung Kecamatan Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin penanganan pekerjaannya dilakukan dengan menggunakan konstruksi beton rigid pavement dengan teknologi fast track.
Alasannya, karena pengecoran jalan nasional yang berada di bawah pengawasan PPK 1.5 dengan panjang 600 meter dengan menggunakan teknologi fast track untuk mempercepat proses pengerjaan sekaligus meminimalkan dampak terhadap arus lalu lintas yang sangat padat di kawasan tersebut.
“Dengan teknologi beton fast track, dalam waktu sekitar 24 jam sudah bisa memenuhi persyaratan mutu. Jadi karena di sini membutuhkan percepatan, pekerjaan dilakukan dari pagi hingga malam dan ditargetkan selesai pada pagi hari. Setelah itu jalan bisa kembali dilalui,” jelas Kepala Balai Besar Jalan Nasional Wilayah Sumatera Selatan, Panji Krisna Wardana kepada wartawan, Minggu (26/7/2026)
Panji menambahkan, untuk keseluruhan di tahun 2026, BBPJN Sumatera fokus penanganan jalan nasional sepanjang 1.565 kilometer yang berada di wilayah Sumatera Semilia dengan alokasi anggaran sekitar Rp486 miliar.
“Secara keseluruhan, BBPJN Sumsel menangani jalan nasional sepanjang 1.565 kilometer dengan berbagai metode, mulai dari pemeliharaan rutin, pemeliharaan efektif hingga rekonstruksi. Untuk ruas batas Kota Palembang-Betung, tingkat kemantapan jalan saat ini mencapai sekitar 92 persen. Artinya, masih terdapat sekitar delapan persen ruas yang membutuhkan penanganan,Jadi ada posisi kurang lebih 8% yang tidak mantapnya,” ungkap Panji.
“Saat ini kita fokus penanganan infrastruktur di Kabupaten Banyuasin pada sejumlah ruas strategis, di antaranya jalan dari batas Kota Palembang menuju Betung serta ruas batas Kota Palembang menuju Tanjung Api-Api,” tambah Panji.
Untuk menjaga kelancaran lalu lintas, BBPJN Sumsel juga terus berkoordinasi dengan forum lalu lintas, kepolisian serta Dinas Perhubungan untuk mengatur arus kendaraan di sekitar lokasi pekerjaan.
Panji menuturkan, pada tahun 2026 pihaknya memiliki paket pekerjaan sekitar Rp12 miliar untuk penanganan menggunakan rigid pavement, termasuk penggantian gorong-gorong yang sebelumnya mengalami kerusakan di KM 13.
“Insya Allah pekerjaan ini ditargetkan tuntas pada Agustus. Hanya saja, anggaran kita memang terbatas. Kalau usulan, tentu kita ingin seluruh ruas yang rusak bisa ditangani, tetapi dengan kondisi anggaran saat ini, penanganan secara masif belum memungkinkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan secara menyeluruh di ruas Palembang-Betung juga harus mempertimbangkan tingginya volume kendaraan. Sebab, gangguan di satu titik saja dapat memicu antrean panjang dan berdampak terhadap arus lalu lintas di sepanjang jalur tersebut.
Karena itu, pemerintah berharap keberadaan Tol Palembang-Betung nantinya dapat mengurangi beban lalu lintas di jalur nasional tersebut. Dengan berkurangnya volume kendaraan, penanganan jalan secara lebih masif diharapkan dapat dilakukan dengan gangguan lalu lintas yang lebih kecil.
“Setelah tol ini jadi, kami berharap volume lalu lintas di batas Kota Palembang hingga Betung jauh berkurang. Dengan begitu, penanganan dengan metode seperti ini bisa dilakukan lebih leluasa tanpa menimbulkan dampak kemacetan yang panjang seperti saat ini,” katanya.
Laporan : Lana
















