FORKI Sumsel Hidupkan Kembali Piala Kapolda Usai Vakum 26 Tahun

FORKI Sumsel Hidupkan Kembali Piala Kapolda Usai Vakum 26 Tahun
FORKI Sumsel Hidupkan Kembali Piala Kapolda Usai Vakum 26 Tahun

HALOPOS.ID|PALEMBANG — Kejuaraan Karate Piala Kapolda Sumatera Selatan kembali hadir. Setelah 26 tahun vakum, turnamen ini dihidupkan lagi oleh FORKI Sumatera Selatan bersama Polda Sumsel sebagai upaya nyata membina atlet muda dan memperkuat karakter generasi.

Ketua Umum FORKI Sumsel RM Taufik Husni, menegaskan, tujuan kejuaraan ini melampaui urusan medali. Arena pertandingan dipandang sebagai ruang untuk membangun kebersamaan, menumbuhkan sportivitas, dan mengasah kemampuan bertanding karateka dari seluruh penjuru Sumsel.

“Kejuaraan ini bukan sekadar ajang untuk memperebutkan medali atau gelar juara semata. Lebih dari itu, turnamen ini adalah sarana untuk mempererat tali silaturahmi, memupuk semangat sportivitas, serta sebagai wadah bagi para atlet di wilayah Sumatera Selatan untuk mengasah kemampuan dan mentalitas bertanding,” ujar Taufik saat pembukaan kejuaraan di GOR PSCC, Sabtu, 18 Juli 2026.

Dalam pandangannya, ada benang merah yang mengikat FORKI dan Polri. Pengabdian menjadi titik awal. Polisi mengabdi untuk negara, sementara karateka mengabdi pada kebenaran dan kesempurnaan karakter. Keduanya bertemu pada tujuan yang sama, yakni menciptakan kedamaian.

Kedua, soal disiplin. Karate menuntut pengulangan dasar secara konsisten untuk mencapai kesempurnaan. Hal serupa berlaku di kepolisian, di mana disiplin dalam prosedur adalah hal mutlak. Konsistensi menjadi kunci keduanya.

Ketiga, fungsi preventif. Menurut Taufik, menyibukkan generasi muda di dojo dan di arena adalah langkah paling efektif untuk menutup ruang bagi pengaruh buruk seperti narkoba dan tawuran. Ini bentuk nyata kehadiran Polri bersama FORKI di tengah masyarakat.

Keempat, kemandirian beladiri. Karateka yang terlatih secara fisik dan mental dinilai sebagai aset penting. Mereka mampu menjaga diri sendiri sekaligus memberi rasa aman bagi lingkungan sekitarnya.

“Polri sangat mengapresiasi masyarakat yang memiliki kemampuan bela diri yang terorganisir. Karateka yang terlatih secara mental dan fisik adalah aset keamanan mandiri bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya,” imbuh Taufik.

Ia juga menyampaikan pesan kepada seluruh atlet agar menjadikan kejujuran lebih penting dari kemenangan. Sementara untuk para wasit dan juri, integritas disebut sebagai penentu kualitas kejuaraan.

“Jadikan kejuaraan ini sebagai langkah awal untuk mengukir prestasi yang lebih tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tambah pria yang akrab disapa TAHU itu.

Sementara itu,Wakil Gubernur Sumsel, Cik Ujang, turut mengapresiasi. Ia menyebut karate sebagai cabang olahraga yang sudah membawa nama Indonesia di dunia, sehingga pembinaannya harus jalan terus melalui kejuaraan-kejuaraan.

“Kejuaraan Karate Piala Kapolda Sumsel tidak hanya menjadi ajang kompetisi olahraga, tetapi juga memperkuat sinergi antara Polri dan masyarakat serta menumbuhkan semangat sportivitas di kalangan generasi muda,” kata Cik Ujang.

“Prestasi tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses pembinaan yang konsisten, kerja keras, dan dukungan dari semua pihak. Kepada seluruh peserta, saya berpesan agar bertanding dengan menjunjung tinggi sportivitas, disiplin, serta saling menghormati,” tamdasnya.

Taufik berharap, setelah sempat terhenti sejak akhir tahun sembilan puluhan, Piala Kapolda bisa kembali rutin digelar setiap tahun. Targetnya jelas: melahirkan atlet berprestasi dan meningkatkan animo masyarakat terhadap olahraga karate di Sumatera Selatan.

Kejuaraan karate yang digelar di Sumatera Selatan mengusung tema “Mencetak Karateka Tangguh dan Berakhlak Wujud Nyata Bhayangkara Presisi Untuk Negeri”. Kegiatan ini diselenggarakan sesuai ketentuan pertandingan karate nasional dan internasional yang berlaku.

Berdasarkan data pendaftaran yang telah diverifikasi panitia, kejuaraan ini diikuti sebanyak 2.102 orang atlet. Rinciannya, 1.313 orang mengikuti kategori Festival, 735 orang di kategori Open, dan 54 orang di kategori Khusus Polri.

Dari sisi kelas pertandingan, panitia mempertandingkan total 146 kelas. Untuk kategori Open Tournament terdapat 94 kelas yang terbagi menjadi 73 kelas Open Tournament, l13 kelas Khusus Polri, dan 8 kelas Beregu. Sementara itu, untuk kategori Festival baik kata maupun kumite dipertandingkan sebanyak 52 kelas.

Dengan jumlah peserta dan kelas yang besar ini, kejuaraan diharapkan mampu menjadi ajang pembinaan sekaligus melahirkan karateka muda yang berprestasi dan berkarakter.

Laporan : Redaksi