Setahun Menahan Sakit, Warga Jember Tak Bisa Berobat karena Tak Punya Kendaraan

Setahun Menahan Sakit, Warga Jember Tak Bisa Berobat karena Tak Punya Kendaraan
Setahun Menahan Sakit, Warga Jember Tak Bisa Berobat karena Tak Punya Kendaraan

HALOPOS.ID/JEMBER – Di usianya yang telah menginjak 78 tahun, Gimun hanya bisa lebih banyak berbaring di rumah sederhananya di Dusun Langsatan, Desa Klompangan, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember. Penyakit yang dideritanya bukan baru hitungan hari. Sudah sekitar satu tahun ia berjuang melawan penyakit menahun, namun langkah menuju fasilitas kesehatan terasa begitu jauh.

Bukan karena lokasi Puskesmas Ajung sulit dijangkau, melainkan karena keterbatasan yang dimilikinya. Gimun tidak mampu mengendarai sepeda motor, sementara kendaraan pribadi pun tidak ada. Anak-anaknya yang menjadi tumpuan juga harus bekerja sehingga tidak selalu dapat mengantarnya berobat.

Akibat berbagai keterbatasan itu, pria lanjut usia tersebut memilih bertahan di rumah meski kondisi kesehatannya terus menurun.

Baru ketika penyakit yang dideritanya semakin parah, keluarga memutuskan membawa Gimun ke Puskesmas Ajung untuk mendapatkan penanganan medis.

Putrinya, Ita, mengaku keputusan membawa sang ayah ke fasilitas kesehatan baru dilakukan setelah kondisinya benar-benar membutuhkan pertolongan.

“Selain tidak punya sepeda motor, bapak juga tidak bisa mengendarainya. Anak-anaknya juga sibuk bekerja,” ujar Ita saat ditemui, Senin (13/7/2026).

Menurut Ita, ayahnya memiliki riwayat hipertensi yang telah lama diderita. Belakangan, kondisi kesehatannya semakin menurun setelah muncul gangguan pada paru-paru.

Selama hampir setahun, keluarga hanya berupaya merawat Gimun di rumah. Hingga akhirnya, kondisi yang terus memburuk membuat mereka tidak memiliki pilihan selain membawanya ke puskesmas.

Pengalaman tersebut membuat Ita berharap pelayanan kesehatan dapat lebih menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses, terutama warga lanjut usia dan keluarga kurang mampu.

“Bapak saya sudah setahun sakit. Baru kali ini saya bawa ke puskesmas. Saya harap ada pelayanan dari tenaga kesehatan yang datang mengunjungi dan mempermudah warga yang kurang mampu,” katanya.

Selain persoalan kendaraan, Ita juga menilai lamanya antrean di rumah sakit menjadi tantangan tersendiri bagi pasien lanjut usia.

“Kalau di puskesmas sebentar, tetapi di rumah sakit antreannya cukup lama,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan layanan kesehatan yang lebih proaktif, seperti menyediakan kendaraan atau tenaga medis yang mendatangi pasien di rumah.

“Kalau bisa, ada kendaraan dan tenaga medis yang datang melayani di rumah. Jadi seperti jemput bola,” harap Ita.

Bagi keluarga Gimun, pelayanan kesehatan bukan sekadar soal tersedianya fasilitas. Akses menuju layanan yang mudah dijangkau menjadi kebutuhan yang sama pentingnya, terutama bagi warga lanjut usia yang hidup dengan keterbatasan fisik dan ekonomi. Sebab, ketika perjalanan menuju puskesmas terasa terlalu berat, sakit yang seharusnya segera ditangani justru harus dipendam lebih lama.

Laporan : Bagus