HALOPOS.ID|PALEMBANG – Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Pemprov Sumsel) memastikan kesiapan lahan untuk pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat di Kabupaten Banyuasin. Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Provinsi Sumsel, Dr. Apriyadi, M.Si., memberikan keterangan rinci terkait status lahan dan target pengembangan pelabuhan strategis tersebut.
Menurut Apriyadi, kunci utama kelanjutan proyek ini adalah kejelasan status tanah. Lahan yang digunakan merupakan tanah negara yang hak pengelolaannya telah diberikan oleh pemerintah pusat kepada Pemprov Sumsel.
“Alhamdulillah, untuk kawasan Pelabuhan Tanjung Carat ini sudah dikeluarkan dari kawasan lindung dan diberikan izin untuk dijadikan lokasi pelabuhan. Ini adalah pemberian dari pemerintah pusat kepada pemerintah provinsi,” ujar Apriyadi di Palembang, baru-baru ini.
Ia menjelaskan bahwa lahan tersebut terbagi dalam beberapa skema yang dikenal dengan istilah “mozaik”. Lahan seluas 56 hektar (Mozaik 56) telah disiapkan untuk pengembangan kawasan pergudangan dan perkantoran pendukung pelabuhan.
“Sertifikatnya sudah selesai dan telah diserahkan oleh Kementerian ATR/BPN kepada Gubernur Sumatera Selatan. Selanjutnya, Gubernur akan menindaklanjuti penyerahan lahan ini ke Kementerian Perhubungan untuk dijadikan lokasi perkantoran dan pergudangan Pelabuhan Tanjung Carat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Apriyadi menyinggung soal lahan seluas 34 hektar (Mozaik 34) yang merupakan bagian dari kewajiban lahan pengganti. Berbeda dengan Mozaik 56 yang digunakan untuk pembangunan, Mozaik 34 diperuntukkan sebagai lahan konservasi.
“Itu lahan pengganti. Kami dapat Mozaik 56 dan Pelabuhan, maka kami harus mengganti tanaman tumbuh yang ada di situ. Bukan ganti duit, tapi ganti tanaman bakau. Jadi Mozaik 34 itu dijadikan lahan konservasi bencana, bukan untuk pembangunan perkantoran atau perguruan, tapi untuk konservasi bakau. Itu penting,” tegasnya.
Kerja Sama dengan Operator Besar Ditargetkan April
Mengenai operasional pelabuhan, Apriyadi mengungkapkan bahwa saat ini Pemprov Sumsel sedang dalam tahap akhir persiapan administrasi untuk menggandeng operator besar, yakni Pertamina. Menurutnya, komunikasi intensif telah dilakukan dan ditargetkan realisasi kerja sama pada awal April 2025.
“Alhamdulillah, untuk lokasi pelabuhan dan pergudangan sudah selesai dan sudah diizinkan. Saat ini kita sambil menunggu proses administrasi lainnya. Memang Pertamina baru mengalami pergantian direksi, jadi mereka juga harus melakukan persiapan. Namun, komunikasi dengan gubernur sudah oke. Insyaallah kita doakan awal-awal April ini bisa segera terealisasi,” ungkap Apriyadi.
Ia optimistis bahwa dengan beroperasinya Pelabuhan Tanjung Carat dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, akan terjadi pergeseran signifikan dalam distribusi sumber daya alam Sumatra Selatan.
“Keinginan kita, lima tahun ke depan, sumber daya alam Sumsel ini tidak lagi keluar melalui jalur Bengkulu atau lainnya, tapi akan terkonsentrasi di sini. Baik itu karet, kelapa sawit, maupun batubara. Potensi batubara Sumsel ini masih sangat besar, untuk 50 tahun ke depan masih oke. Artinya, pelabuhan ini akan menjadi simpul utama perekonomian kita,” pungkasnya.
Dengan telah rampungnya proses sertifikasi lahan dan target penandatanganan kerja sama dengan operator, pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat dipastikan memasuki babak baru menuju realisasi sebagai pelabuhan kelas dunia yang selama ini dinanti-nantikan.




















