HALOPOS.ID/JAKARTA— Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr. Liliek Marhaendro Susilo, mengimbau seluruh calon jemaah haji agar mulai menjaga kebugaran tubuh sejak jauh hari sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.
Menurut dr. Liliek, persiapan fisik sangat menentukan kelancaran dan keselamatan jemaah dalam menjalankan ibadah haji, terutama karena kondisi cuaca di Arab Saudi masih tergolong panas dan aktivitas ibadah membutuhkan stamina tinggi.
“Bagi jemaah yang sudah melunasi biaya haji dan masuk dalam daftar keberangkatan, mulai sekarang biasakan melakukan aktivitas fisik ringan setiap hari. Minimal berjalan kaki 30 menit. Kalau masih sehat, olahraga rutin itu wajib,” kata dia usai menjadi pemateri acara Diklat petugas haji di asrama haji pondok gede Selasa (13/1/2025)
Selain olahraga, kata dia, jemaah juga diminta menerapkan pola hidup sehat, mulai dari menjaga asupan makanan hingga pola istirahat.
“Kurangi gula, garam, dan lemak. Makan secukupnya, jangan berlebihan. Tidur dan istirahat yang cukup agar pemulihan stamina dan metabolisme tubuh tetap optimal,” katanya.
Terkait kondisi cuaca di Makkah dan Madinah, dr. Liliek menjelaskan bahwa secara umum masih berada dalam musim panas, meskipun tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Karena itu, jemaah diminta membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari.
“Kalau bisa, jangan keluar pemondokan di siang hari. Kalau terpaksa harus keluar, gunakan alat pelindung diri seperti kacamata hitam, masker, dan bawa semprotan air. Kalau terasa kering, semprotkan ke wajah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga hidrasi selama berada di Tanah Suci.
“Minum air minimal satu gelas atau sekitar 100 mililiter setiap satu hingga dua jam. Kalau tidak ingin sering ke toilet, minumlah sedikit-sedikit tapi sering, misalnya satu teguk setiap 10 menit. Gunakan tumbler agar lebih praktis,” jelasnya.
Selain menjaga kesehatan, Kemenkes juga mengingatkan jemaah agar tidak kelelahan akibat tradisi walimatul safar atau acara pamitan sebelum berangkat haji.
“Walimatul safar sebaiknya dilakukan sederhana dan maksimal satu minggu sebelum keberangkatan. Jangan terlalu dekat dengan hari berangkat agar jemaah punya waktu cukup untuk istirahat,” tegas dr. Liliek.
Ia menambahkan, banyak kasus kelelahan berat terjadi karena jemaah terlalu sibuk menerima tamu sebelum berangkat.
“Pernah ada jemaah yang selama tujuh hari tujuh malam menerima tamu tanpa istirahat. Saat di pesawat dia kelelahan, pingsan, dan akhirnya wafat sebelum sampai Madinah. Ini harus jadi pelajaran bagi kita semua,” ujarnya.















