Menteri Haji Gus Irfan Tegaskan Petugas Haji 2026 Harus Layani Jemaah, Bukan Pejabat

Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf saat meninjau langsung kondisi peserta Diklat Petugas Haji 2026 di asrama haji Pondok Gede Jakarta Timur pada Rabu (13/1/2025).
Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf saat meninjau langsung kondisi peserta Diklat Petugas Haji 2026 di asrama haji Pondok Gede Jakarta Timur pada Rabu (13/1/2025).

HALOPOS.ID/ JAKARTA – Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan pentingnya kesiapan fisik, mental, dan kekompakan seluruh petugas haji 2026 sebagai ujung tombak keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji.

Hal tersebut disampaikannya saat meninjau langsung kondisi peserta Diklat Petugas Haji 2026 di asrama haji Pondok Gede Jakarta Timur pada Rabu (13/1/2025).

“Saya sengaja datang hari ini untuk memastikan para peserta benar-benar siap, sehat, dan mampu menjalankan tugas mulai hari ini hingga 20 hari ke depan. Mereka inilah ujung tombak pelayanan haji tahun 2026,” kata Gus Irfan saat sambutan.

Menurutnya, keberhasilan petugas haji dalam melayani jemaah berkontribusi besar terhadap suksesnya penyelenggaraan haji secara keseluruhan.

Ia menyebut, kualitas pelayanan petugas menyumbang sekitar 60 persen keberhasilan, sementara kegagalan petugas justru bisa menjadi penyebab utama gagalnya layanan haji.

“Saya bertanggung jawab penuh atas seluruh kegiatan haji 2026. Kalau bapak-ibu sekalian gagal melayani, itu 100 persen menjadi kegagalan kami,” ujarnya.

Gus Irfan menegaskan bahwa program Diklat ini bukan sekadar formalitas pelatihan, melainkan ruang penyatuan niat, sikap, dan komitmen lintas instansi.

Dari ribuan pendaftar, hanya sekitar 1.500 peserta yang terpilih mengikuti program Diklat.

“Artinya, bapak-ibu adalah orang-orang terpilih. Kesempatan ini adalah nikmat. Cara mensyukurinya adalah mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh dan menjadi pelayan tamu Allah yang terbaik di Tanah Suci,” jelas dia.

Ia mengapresiasi suasana kebersamaan antarpeserta dari berbagai latar belakang, mulai dari tenaga kesehatan, TNI-Polri, ormas Islam, pesantren, hingga unsur masyarakat lainnya.

“Di sini tidak ada senior-junior, tidak ada instansi, tidak ada kelompok. Identitas kita satu: petugas haji,” tegasnya.

Gus Irfan mengingatkan bahwa petugas haji adalah representasi negara di Arab Saudi. Oleh karena itu, sikap tanggap, peduli, dan disiplin harus dibiasakan sejak di tanah air.

“Negara harus hadir dalam setiap situasi yang dihadapi jemaah. Jangan ada lagi laporan petugas haji yang cuek. Mulai dari hal kecil, seperti kebersihan asrama, kamar mandi, hingga penginapan, itu tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Ia bahkan berbagi pengalaman pribadinya saat berhaji pada 2008, ketika kondisi air di hotel sempat mati berhari-hari. Menurutnya, kepekaan dan inisiatif petugas sangat menentukan kenyamanan jemaah dalam situasi darurat.

Gus Irfan menegaskan bahwa petugas haji tidak melayani pejabat, kelompok, atau instansi tertentu, melainkan seluruh jemaah tanpa kecuali.

“Satu jemaah tertinggal adalah kegagalan kita semua. Petugas harus mendahulukan kepentingan jemaah dibanding kepentingan pribadi, termasuk ibadah sunnah atau aktivitas individu,” katanya.

Ia juga menekankan sejumlah prinsip utama yang wajib dipegang petugas haji, antara lain tepat waktu sebagai harga mati, siap bekerja di bawah tekanan, siap menerima arahan, dan saling membackup antarpetugas.

“Haji adalah operasi besar, kompleks, dan sensitif. Tanpa kekompakan, pelayanan akan runtuh. Tidak ada yang berjalan sendiri, tidak ada yang merasa paling penting,” pungkasnya.