Penjual Bendera di Palembang Keluhkan Sepi Pembeli

Ahmad Sofian penjual bendera dan umbul-umbul di Palembang
Ahmad Sofian penjual bendera dan umbul-umbul di Palembang

PALEMBANG – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke 76 tahun atau tahun 2021 ditengah situasi Pandemi Covid-19 ini dikeluhkan oleh para penjual bendera merah putih dan umbul-umbul, terutama di sepanjang jalan Angkatan 45 Palembang. 

Ahmad Sofian (62 tahun) warga Lorong Majapahit RT 01 RW 01, Angkatan 45, Kecamatan Ilir Barat I, yang menjajakan dagangannya di pusat Kota Palembang mengeluhkan sepinya pembeli.

Sofian mengaku sepi pembeli, bahkan selama pandemi Covid-19 yang tingkat penyebarannya cukup tinggi, dalam satu hari dirinya mampu menjual dua hingga tiga lembar bendera merah putih yang diperolehnya dari wilayah Garut Jawa Barat.

“Omzet penjualan lumayan namun yang kita peroleh untuk tahun ini tak seperti yang didapat sebelumnya. Seumpama harga bendera Rp20 ribu, kita jual dengan harga Rp25 ribu, jadi Rp5000 keuntungannya, Alhamdulillah itulah yang didapat,” jelasnya kepada wartawan, Rabu (4/8/2021).

Penurunan pembeli, ujar Sofian akibat pandemi COVID-19 yang sudah masuk dua tahun. Di satu sisi kita juga mengais rezeki untuk penghidupan sehari hari dan kita juga dihadapi dengan kondisi yang memprihatinkan. “Kita selaku masyarakat bawah hanya bisa mengandalkan dari pencarian seperti ini,” keluhnya.

Terkait bantuan selama masa pandemi, Sofian menuturkan tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Saya tinggal bersama saudara yang kesehariannya hanya menjual manisan kecil kecilan. “Untuk membantu saudara saya, ini lah yang bisa dilakukan,” ucapnya.

Dikatakan Sofian, dirinya telah menggeluti sebagai penjual bendera sudah tiga tahun. Bendera, umbul umbul untuk 17 Agustusan ini kita peroleh dari daerah Garut. “Omzet penjualan lumayan namun yang kita peroleh untuk tahun ini tak seperti yang didapat sebelumnya. Seumpama harga bendera Rp20 ribu, kita jual dengan harga Rp25 ribu, jadi Rp5000 keuntungannya, Alhamdulillah itulah yang didapat,” jelasnya.

Penurunan pembeli, ujar Sofian akibat pandemi COVID-19 yang sudah masuk dua tahun. Di satu sisi kita juga mengais rezeki untuk penghidupan sehari hari dan kita juga dihadapi dengan kondisi yang memprihatinkan. “Kita selaku masyarakat bawah hanya bisa mengandalkan dari pencarian seperti ini,” keluhnya.

Terkait bantuan selama masa pandemi, Sofian menuturkan tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Saya tinggal bersama saudara yang kesehariannya hanya menjual manisan kecil-kecilan. “Untuk membantu saudara saya, ini lah yang bisa dilakukan,” ucapnya.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *