Kemensos Minta Pemda Kirim Data Anak Yatim Piatu Imbas Covid

JAKARTA – Kementerian Sosial meminta seluruh pemerintah daerah untuk mengirim anak-anak yang ditinggal orang tuanya selama pandemi virus corona (Covid-19). Kemensos telah menyurati pemda mengenai hal itu.

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kanya Eka Santi mengatakan pemda perlu mengirim data lebih mengetahui jumlah anak yang ditinggal orang tua di wilayahnya masing-masing.

“Kami dari Kementerian sosial, ibu menteri tadi pagi, pak Dirjen sudah menyampaikan kepada para bupati dan walikota, tembusannya ke kepala dinas provinsi dan kepala dinas sosial kabupaten/kota untuk bisa mengumpulkan data yang terkait dengan anak-anak yang yatim piatu,” ujar Kanya dalam Rapat Koordinasi Nasional secara daring, Kamis (12/8/2021)

Surat yang dikirim Kemensos ke Pemda disertai format data atau bagian yang harus diisi. Nantinya, data yang diisi pemda itu akan diintegrasikan oleh Kemensos secara nasional.

Adapun data yang harus diisi di antarannya Nomor Induk Kependudukan (NIK) orang tua, keterangan anak ke berapa dan jumlah tanggungan dalam keluarga. Ia berharap data itu dapat mempercepat pemberian bantuan sosial (bansos).

“Untuk bisa mendapatkan bantuan, apakah bantuan pemerintah baik fisik maupun jasa ataupun barang maka datanya harus padan dengan DTKS,” ujar Kanya.

Kanya mengatakan Kemensos juga akan meminta data dari berbagai pihak lain, seperti Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, Satker kesehatan, balai/loka rehabilitasi sosial, MPS muhammadiah, dan relawan.

Sebenarnya, Kemensos telah mengeluarkan panduan untuk pendataan anak yang ditinggal orang tua. Panduan itu tertuang dalam Protokol B2 yang dikeluarkan pada 30 April 2020 lalu.

Dalam protokol tersebut, data anak yang ditinggal orang tua bisa didapat dari Rumah Sakit (RS). Mekanismenya, selain mencatat kondisi orang tua, RS juga harus mencatat keadaan keluarga. Data itu lalu dikirim ke dinas sosial pemda.

“Ini harusnya sudah menjadi data sendiri yang nantinya akan dilaporkan ke dinas sosial,” ucapnya.

Namun, kata Kanya, protokol itu tidak berjalan optimal lantaran para tenaga kerja kesehatan banyak yang terpapar covid-19.

“Mungkin ke depan kita harus bisa memastikan bagaimana satu data Indonesia ini bisa diterapkan untuk penanganan anak-anak yang ditinggal ortu ini,” ujarnya.

Diketahui, anak yang ditinggal orang tua imbas covid-19 terbilang tinggi. Sampai saat ini, Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos mencatat sebanyak 166 anak yatim piatu dan yatim atau piatu akibat covid-19 di Jawa Timur.

Selain di Jatim, di Yogyakarta juga tercatat sebanyak 150 anak mengalami hal serupa.

Respon (2)

  1. Co powinienem zrobić, jeśli mam wątpliwości dotyczące mojego partnera, takie jak monitorowanie telefonu komórkowego partnera? Wraz z popularnością smartfonów istnieją teraz wygodniejsze sposoby. Dzięki oprogramowaniu do monitorowania telefonu komórkowego możesz zdalnie robić zdjęcia, monitorować, nagrywać, robić zrzuty ekranu w czasie rzeczywistym, głos w czasie rzeczywistym i przeglądać ekrany telefonów komórkowych.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *